Rabu, 02 Juni 2010

ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PERKEMIHAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
- Di harapkan makalah ini dapat di baca oleh rekan sejawat dan dapat di pergunakan sebagai pelajaran
- Di harapkan makalah ini di pergunakan oleh pihak institusi sebagai research materi untuk adetingkat khususnya.
2. Tujuan Khusus
- Mahasiswa mampu memahami materi dari makalah ini
- Mahasiswa dapat menerapkan isi atau pembahasan dari makalah ini di dalam praktik lab maupun lapangan.
- Di harapkan makalah ini dapat berguna bagi institusi

C. Ruang lingkup
Ruang lingkup dari makalah keperawatan medical bedah ini ialah pemeriksaan laboratorium, Biopsy ginjal dan radiologi ginjal.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
1. Research library yaitu pengambilan sumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan atau studi pustaka.
2. Web search yaitu ialah pengambilan sumber dari internet yang ada hubunganya dengan materi pemeriksaan diagnostic system renal.
E. Sistemtematika Penulisan
Adapun sistematika dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN Meliputi :
A. Latar belakang masalah
B. Tujuan penulisan
C. Ruang lingkup
D. Metode penulisan
E. Sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN Meliputi :
1. Pengumpulan sample urine
2. Biopsy ginjal
3. Radiologi
BAB III PENUTUP Meliputi :
a. Kesimpulan
b. Saran.
Daftar Pustaka



BAB II
PEMBAHASAN
1. LABORATORIUM
A. PENGUMPULAN SAMPEL URIN
Semua pengumpulan sample urine harus di lakukan pada specimen yang segar, khususnya yang berasal dari eliminasi urine sewaktu bangun tidur pagi karena specimen ini sangat pekat dan lebih besar kemmungkinanya untuk mengungkapkan abnormalitas. Specimen yang di ambil secara acak merupakan specimen yang memuaskan bagi kebanyakan urinalisis dengan syarat bahwa urine tersebut di kumpulkan dalam wadah yang bersih dan di lindungi terhadap kontaminasi bakteri serta perubahan kimiawi. Semua specimen harus di simpan di lemari pendingin segera setelah di peroleh. Jika di biarkan dalam suhu kamar urin akan menjadi alkalis akibat kontaminasi bakteri pemecah ureum dari lingkungan di sekitarnya. Pemeriksaan mikroskopik harus dilakukan dalam waktu setengah jam setelah di kumpulkan kelambatan memungkinkan specimen urine mengalami penguraian sel – sel dan poliperasi bakteri pada specimen non steril. Kultur urine harus segera di proses. Jika tindakan ini tidak mungkin di lakukan kultur tersebut harus di simpan dalam suhu 4 C atau 39 F.

1. URIN BERSIH (clean voided urine specimen)
Urin bersih diperlukan untuk pemeriksaan urinalisa rutin. Untuk pemeriksaan urinalisa rutin diperlukan:
1. Urin bersih, biasanya urin pertama pagi hari karena urin pertama cenderung konsentrasinya lebih tinggi, jumlah lebih banyak, dan memiliki pH lebih rendah.
2. Jumlah minimal 10mL
3. Tidak ada cara pengambilan khusus, klien dapat melakukannya sendiri, dengan menampung urin pada wadah yang disediakan, kecuali klien yang lemah, mungkin memerlukan bantuan.
4. Spesimen harus bebas dari feses
5. Diperlukan urin segar (pengambilan kurang dari 1 jam), bila tidak dapat diperiksa dengan segera, urin harus dimasukan dalam lemari es. Bila urin berada dalam suhu ruangan untuk periode waktu lama maka kristal urin dan sel darah merah akan lisis/hancur serta berubah menjadi alkalin.
2. URIN TENGAH (clean-catch or midstream urin specimen)
1. Urin tengah merupakan cara pengambilan spesiman untuk pemeriksaan kultur urin yaitu untuk mengetahui mikroorganisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih Spesimen urine yang di keluarkan dengan cara yang umum biasanya tidak dapat di gunakan pemeriksaan bakteriologi akibat kontaminasi organism dari lingkungan di sekitar meatus uretra. Kontaminasi tersebut dapat di hindari dengan melakukan kateterisasi kandung kemih. Namun karena adanya kemungkinan terjadinya infeksi maka kateterisasi tidak di rekomendasikan untuk mendapatkan specimen urine kecuali adanya indikasi tertentu. Teknik clean – catch midstream ( teknik ini mengambil urine di tengah – tengah pengeluaran urine saat buang air kecil dan bukan saat memulai dan mengakhiri dan di lakukan dengan cara – cara yang bersih.) akan memberikan cara – cara untuk melakukan pemeriksaan bakteriologi yang dapat di andalkan tanpa kateterisasi . Dalam pengambilan ini Jumlah yang diperlukan 30-60mL urine.

Prosedur pada pasien laki – laki :
a. Buka gland penis dan bersihkan dan bersihkan daerah di sekitar meatus dengan sabun hilangkan semua bekas sabun dengan kapas yang sudah di basahi dengan air
b. Buang urine yang keluar pertamakali
c. Kumpulkan bagian tengah urine dengan menggunakan wadah steril yang bermulut lebar dan di lindungi oleh tutup yang steril
d. Jangan mengumpulkan beberapa tetes urine terakhir karena sekresi prostat dapat masuk kedalam pada akhir pencairan urine.

Prosedur pada pasien wanita :

a. Pisahkan kedua labia agar orifisium uretra tidak terhalang
b. Bersihkan daerah sekitar meonatus urinarius dengan menggunakan spons yang di basahi dengan sabun cair
c. Usap perineum dari depan kebelakang
d. Hilangkan semua bekas sabun dengan kapas yang sudah di basahi dengan air dengan cara menghapusnya dari depan ke belakang
e. Pertahankan agar labia tetap terpisah dan lakukan urinasi dengan kuat tetapi bagian pertama dan yang memancar keluar jangan di tampung ( kolon ) bakteri terdapat pada bagian distal orifisium uretra pancaran urine yang pertama akan membasuh dan membersihkanya dari kontra min asi uretra tersebut.
f. Kumpulkan bagian pancaran tengah dari aliran urine dengan memastikan agar wadah yang dui gunakan untuk mengumpulkan specimen urine tidak mengenai alat kelamin.


3. URIN TAMPUNG (timed urin specimen)
Beberapa pemeriksaan urin memerlukan seluruh produksi urin yang dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu, rentangnya berkisar 1-2 jam – 24 jam. Urin tampung ini biasanya disimpan di lemari pendingin atau diberi preservatif (zat aktif tertentu) yang mencegah pertumbuhan bakteri atau mencegah perubahan/kerusakan struktur urin. Biasanya urin ditampung di tempat kecil lalu dipindahkan segera ke penampungan yang lebih besar.

Adapun tujuan pemeriksaan yang menggunakan urin tampung adalah:
1. mengkaji kemampuan ginjal mengkonsentrasikan dan mendilusi urin
2. menentukan penyakit gangguan metabolisme glukosa
3. menentukan kadar sesuatu dalam urin (misal: albumin, amilase, kreatinin, hormon tertentu)

Hal yang perlu dilakukan perawat:
1. beri wadah yang telah disiapkan oleh pihak laboratorium
2. jelaskan metodenya
3. catat jam awal dan jam akhir menampung urin

4. SPESIMEN KATETER INDWELLING
Urin steril dapat diperoleh dengan mengambil urin melalui area kateter yang khusus disiapkan untuk pengambilan urin dengan jarum suntik. Klem kateter selama kurang lebih 30 menit jika tidak diperoleh urin waktu pengambilan. Untuk kultur urin diperlukan 3 mL, dan 30 mL untuk urinalisa rutin. Untuk kultur urin, hati-hati dalam pengambilan agar tidak terkontaminasi.
Hal yang dapat di lakukan perawat ialah :
a. Perawat melakukan infokonsent kepada klien
b. Persiapkan alat yang di butuhkan dan wadah yang sudah di sediakan oleh lab
c. Untuk kultur urin diperlukan 3 mL, dan 30 mL untuk urinalisa rutin
d. Klem kateter selama kurang lebih 30 menit jika tidak diperoleh urin waktu pengambilan.
e. Masukan urine kedalam tempat yang telah di sediakan

5. PENGUMPULAN URINE 24 JAM
Banyak pemeriksaan urine analisis kuantitatif di laksanakan pada specimen urine yang di kumpulkan selama prosedur waktu 24 jam untuk melaksanakan prosedur ini.
Prosedur persiapan pasien :
a. Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih pada waktu yang di tentukan ( 8.00 pagi ) urine di buang
b. Kumpulkan urine setelah 24 jam pengosongan kandung kemih
c. Masukan specimen urine dalam wadah yang bersih

2. BIOPSY GINJAL
A. Pengertian
Biopsi ginjal ialah sutu prosedur yang dapat membantu menegakan diagnosis penatalaksanaan dan prognosis penderita penyakit ginjal. Teknik brus biopsy akan menghasilkan informasi informasi yang spesipik apabila hasil pemeriksaan radiologi ureter atau pelvis ginjal yang abnormal tidak dapat menujukan apakah kelainan tersebut merupakan tumor, batu, bekuan darah atau hanya melainkan artefak. Pertama – tama di lakukan pemeriksaan sistoskopik kemudian di pasang kateter uretra melalui kateter tersebut. Kelainan yang di curigai di sikat maju mundur secara teratur untuk mendapatkan sel – sel dan fragment jaringan permukaan untuk pemeriksaan analisis histology.
Setelah prosedur pemeriksaan selesai dilakukan, pemberian cairan infuse dapat di lakukan untuk membersihkan ginjal dan membantu mencegah terbentuknya bekuan darah. Urin dapat mengandung darah ( yang biasanya akan jernih dalam waktu 24 – 48 jam )akibat perembesan pada bagian atau tempat penyikatan. Kolik renal pasca operatif kadang – kadang terjadi dan responsip terhadap pemberian freparat analgetik.
Biopsy ginjal di lakukan dengan memasukan jarum biopsy melalui kulit ke dalam jaringan renal atau dengan melakukan biopsy terbuka melalui luka insisi yang kecil di daeraah pinggang. Pemeriksaan ini berguna untuk mengevaluasi perjalanan penyakit ginjal dan mendapatkan spesiment bagi pemeriksaan mikroskopik electron serta imunofluoresen khususnya bagi penyakit glomelurus. Sebelum biopsy dilakukan pemeriksaan koagulasi perlu dilakukan terlebih dahulu untuk mengidentifikasi setiap resiko terjadinya perdarahan pasca biopsy.
B. Prosedur
Pasien di puasakan selama 6 – 8 jam sebelum pemeriksaan set infuse di pasang. Specimen urin di simpan dan di kumpulkan untuk di bandingkan dengan specimen pasca biopsy. Jika akan di lakukan biopsy jarum, pasien di beritahukan agar menahan napas ( untuk mencegah gerakan ginjal ) ketika jarum biopsy di tusukan.
Pasien yang sudah dalam keadaan sedasi di letakan dalam posisi berbaring telungkup dengan bantal pasir di letakan di bawah perut. Kulit pada lokasi biopsy di infiltrasi dengan prefarat anastesi local. Jarum biopsy tepat di tusukan sebelah dalam kapsul ginjal tepat pada kuadrat ginjal sebelah luar. Lokasi ginjal dapat si pastikan melalui fluoroskopi atau ultrasound dengan menggunakan teknik khusus. Pada biosi terbuka di lakukan insisi yang kecil di daerah ginjal sehinggan ginjal dapat di lihat secara langsung.
C. Penatalksanaan Keperawatan Pasca Biopsi
Sesudah specimen biosi di peroleh tempat biopsy di tekan. Pasien di biarkan dalam posisi berbaring telungkup sesaat sesudah biopsy dan kemudian di haruskan tirah baring selama 24 jam untuk mengurangi resiko perdarahan.
Kondisi pasien dipantau dengan ketat untuk mendeteksi kemungkianan hematuria yang dapat terjadi segera setelah biopsy. Ginjal merupakan organ yang vaskuler, dan kurang lebih seperempat dari curah jantung beredar melalui ginjal dalam sekitar satu menit. Pelintasan jarum biopsy akan menusuk kapsu ginjal dan perdarahan dapat terjadi dalam rongga perirenal. Biasanya perdarahan akan berhenti dengan sendirinya meskipun dalam ruangan in dapat terjadi akumulasi darah dengan jumlah yang besar tanpa tanda – tanda yang jelas sampai terlihat kolaps kardiovaskular.
- Untuk mendeteksi dini tanda – tanda perdarahan tanda – tanda vital harus di amati setiap 5 hingga 15 menit sekali selama satu jam pertama dan kemudian dengan frekuensi yang semakin di kurangi sesuai indikasi.
- Tanda – tanda dan gejala yang cenderung kea rah perdarahan mencakup kenaikan atau penurunan tekanan darah, takikardia, anoreksia, muntah dan timbulnya gangguan rasa nyaman dan rasa pegal serta nyeri tumpul di daerah abdomen.
- Setiap keluhan nyeri pada punggung dan bahu atau di suria harus segera di laporkan.
Nyeri di daerah pinggang dapat terjadi meskipun biasa menggambarkan perdarahan yang terjadi dalam otot dari pada di sekitar ginjal. Nyeri kolik yang serupa dengan kolik ureter dapat dapat timbul apabila di temukan bekuan dalam urter yang dapat menimbulkan nyeri pinggang yang tajam, serta menjalar hingga ke lipat paha.
Semua urine yang di eliminasi pasien di inspeksi untuk menemukan bukti adanya perdarahan dan membandingkanya dengan specimen pra biopsy dan sempel urin yang di keluarkan sebelumnya. Jika perdarahan tetap terjadi seperti yang termanispestasi melalui hematom yang semakin membesar maka palpasi dan manipulasi abdomen harus di hindari.
Nilai hematokrit dan hemoglobin di ukur dalam waktu 8 jam untuk mengkaji setiap perubahan nilai yang menurun dapat menunjukan perubahan. Biasanya asupan cairan di pertahankan pada jumlah 3000 ml per hari kecuali apabila pasien menderita insufisiensi ginjal. Bila terjadi perdarahan, pasien di siapkan untuk menjalani terapi komponen darah dan intervensi bedah untuk mengendalikan hemoragi yang yang memerlukan tindakan drainase atau kadang – kadang nefrektomi ( pengangkatan ginjal ).
Hemoragi yang tertunda dapat terjadi beberapa hari setelah biopsy. Karena itu, pasien di instruksikan untuk tida melakukan aktivitas yang berlebihan, olah raga atu mengangkat beban yang berat selama paling sedikit 2 minggu. Dokter atau rumah sakit harus di beri tahu jika terdapat tanda dan gejala seperti berikut : nyeri pinggang, hematuria, pusing dan rasa ingin pingsan, denyut nadi yang cepat atau tanda – tanda dan gejala lain yang menunjukan adanya perdarahan.
3. Radiologi
Pemeriksaan radiologi merupakan cara untuk melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi gelombang, baik gelomban elektromagnetik maupun gelombang mekanik. Pada awalnya frekuensi yang dipakai berbentuk sinar-x (x-ray) namun kemajuan teknologi modern memakai pemindaian (scanning) gelombang sangat tinggi (ultrasonic) seperti ultrasonography (USG) dan juga MRI (magnetic resonance imaging)
PROSES DAN PENYELENGGARAAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT
1. Kebijakan dan Prosedur
Agar pelayanan teradap pasien bisa terlaksana secara optimal, maka perlu ada prosedur secara tertulis yang di dasarkan dalam bidang radiologi.
a. Kebijaksanaan dan prosedur tata kerja di instalasi radiologi harus tertulis sebagai berikut : (Depkes, standar pelayanan radiologi RSU ,1993)
1. Pemeriksaan radiologi dilakukan hanya permintaan dari dokter . dalam permintan tersebut di cantum kan keadaan klinis.
2. Tanggung jawab hasil pemeriksaan Radio dignostik berada dalam tanggung jawab dokter sepesial Radiologi.
3. Semua foto seharusnya dibaca oleh seorang dokter sepesialis radiologi, jika tidak tersedia dokter sepesialis radiologi maka diagnostik tersebut dapat dilakukan oleh dokter non sepesialis yang telah mendapat pelatihan di bidang radiologi.
4. Pemeriksaan harus dilakukan oleh tenaga bidang radiologi.
b. Buku penuntut prosedur dalam bidang pelayanan radiologi diberikan pada semua instalasi yang ada di rumah sakit.
c. Penuntut prosedur tehnik dan pemeliharaan rutin di berikan kepada tenaga penata rontgen/asisten rontgen ataw yang dianggap berwenang (tenaga yang dilatih).
d. Penuntun prosedur administrasi diketahui oleh semua staf.
e. Kebijaksanaan prosedur akan dikembangkan oleh staf instalasi radiologi bekerjasama dengan profesi lain terkait.
f. Kebijaksanaan dan prosedur ini akan ditinjaw paling tida dalam tiga tahun atau sesuai dengan keadaan.
g. Staf harus menjalan kan kebijaksanaan serta prosedur ini, dan mengikuti semua kegiatan yang ada di bawah kepengawasan kepala instalasi.
2. Prosedur pemeriksaan
Prosedur pemeriksaan radiologi umumnya dapat dikelompokan dalam tigabagian yaitu : (Depkes, standar pelayanan radiologi RSU, 1993)
a. Prosedur sebelum pemeriksaan
b. Prosedur selama pemeriksaan
c. Prosedur setelah pemeriksaan
3. Prosedur sebelum pemeriksaan
Pada umumnya meliputi administrasi dan penjelasan kepada penderita yaitu:
- Pembukuan data-data penderita dan jenis pemeriksaan
- Biaya pemeriksaan
- Pemberitauan mengenai tempat pemeriksaan
- Pemberian no registrasi
- Penjelasan tentang bagaimana pemeriksaan ini berlangsung
4. Prosedur slama pemeriksaan
- Bila dikehendaki suatu pemotretan rontgen yang baik maka diperlukan :
- Penyusunan serta komposisi dari segala sesuatu yang berhubungan dengan pemotretan sehingga dapat terlaksana hal yang kita inginkan. Hal ini dipersiapkan untuk memperlihatkan bentuk dan anatomi dari organ yang difoto secara posisi dan besar obyek yang akan di periksa.
- Kontur yang jelas serta ketajaman yang memadai.
- Mengusahakan pendekatan ukuran yang sama terhadap obyek yang sebenarnya.
Sesuai dengan posisi yang diinginkan maka diusahakan untuk memperoleh arah proyeksi yang tepat dengan jalan mengatur arah tabung.
Adapun usaha agar penderita tetap diam selama berlangsungnya pemeriksaan maka dapat digunakan beberapa lat penunjang yang sangat mengurangi pergerakan objek selama dilakukan pemeriksaan, alat penunjang tersebut antara lain sand bag , spons, compression band dan bantal-bantal kecil yang tidak mempengaruhi gambar radiografi.
5. Prosedur Setelah pemeriksaan
Prosedur ini umumnya meliputi hasil foto rontgen yaitu penganalisaan foto rontgen oleh ahli radiologi untuk menentukan dignosa yang tepat. Pada tahap akhir dari prosedur ini adalah pengarsipan foto-foto.
Penyelenggaraan radiologi senantiasa harus dapat memenuhi tuntutan pelayanan terhadap pasien, demikian pula maupun agar para teknisi dapat bekerja dengan sebaik-baiknya dan maupun mengantisipasi perkembangan IPTEK yang maju dengan pesat, termasuk alat-alat kedokteran yang dalam hal ini adalah alat Radiologi. Untuk itu diperlukan kegiatan pengkajian ulang dengan evaluasi secara terbuka, berksinambung serta obyektif terhadap setiap perubahan dan perkembangan tersebut, sehinga diharapkan model penyelenggaraan radiologi dapat bersama-sama mengikuti derap langkah kemajuan yang sangat cepat dari berbagai disiplin ilmu kedokteran klinis yang membutuhkan peran radiologi sebagai penunjang medis yang dituntut tidak hanya lebih akurat, tapi juga lebih cepat dan tanggap serta sangat antisipatif dan partisipatif dengan mereka.
Ciri-ciri pelayanan kesehatan di rumah sakit model sekarang ini dengan daya saing yang tinggi dan mobilitas konsumen yang cepat, membutuhkan suatu model-model penyelenggaraan pemeriksaan radiologim yang tidak hanya efektif , efisyen pengelolaannya , tapi juga harus mempunyai produk bermutu tinggi, cepat, tanggap dan mampu membaca situasi yang di sesuaikan kondisi dan situasi rumah sakitnya.
6. Falsafah dan tujuan
Pelayanan radiologi dirumah sakit bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan medik rumah sakit melalui pelayanan radiodiagnostik dan radioterapi maupun pelayanan pencitraan lainnya bagi pasien-pasien rujukan, baik yang berasal dari dalam rumah sakit maupun luar rumah sakit. Pelayanan radiologi diumahsakit diselenggarakan bagi pelayanan rutin maupun gawat darurat. (Dep.Kes.,pedoman Akreditasi, rumah sakit 1994)
7. Kriterian
Pemeriksaan radiologi disesuaikan dengan pengembangan dan tujuan rumah sakitsecara keseluryhan dan diutamakan untuk meningkatkan mutu diagnose klinik sehingga pengobatan terhadap pasien lebih efisien dan efektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar