Sabtu, 26 Juni 2010

ASKEP HALUSINASI ( GOR )

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Gangguan jiwa ialah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran social.( Stuart and Sunden 1995 ). Salah satu skizofrenia yang akan kita bahas dalam makalah ini adalah Gangguan Orientasi Realita.
Gangguan orientasi realita adalah ketidak mampuan klien menilai dan berespon pada realita. Klien tidak dapat membedakan rangsang internal dan eksternal tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan klien tidak mampu meberi respon secara akurat sehingga tampak perilaku yang sukar di mengerti dan mungkin menakutkan. Adapun gangguan yang tergolong Gangguan Orientasi Realita ialah Halusinasi dan Waham.
Ada 2 definisi halusinasi menurut Dr. Sunardi 2005 dan Stuart and Sundeen 1998 antara lain :
Halusinasi adalah presepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsangan yang menimbulkanya atau tidak ada objek.(Drs Sunardi 2005)
Halusinasi adalah distrosi presepsi yang terjadi pada respon neurobiological yang mal adatif (stuart and sunden 1998).
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang di pertahankan secara kuat / terus – menerus namun tidak sesuai kenyataan(stuart and sunden 1998).
Dan adapun Masalah yang dapat timbul akibat tidak terkendalinya penanganan halusinasi yaitu halusinasi dapat menyebabkan pasien menjadi Pk ( perilaku kekerasan ), Bunuh diri, Isolasi Sosial dan Harga diri rendah.
Dan Peran Perawat pada kasus halusinasi ini meliputi :
- Promotif ialah memberikan penyuluhan tentang kesehatan jiwa kepada individu, keluarga dan masyarakat.
- Preventiv ialah memberikan pendidikan tentang kesehatan jiwa kepada individu, keluarga dan masyarakat.
- Curativ ialah memberikan askep dengan pendekatan proses keperawatan baik untuk individu, keluarga dan masyarakat dengan menggunakan pendekatan manajemen keperawatan yang terdiri dari : perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan secara konsisten berupa :
a. Perencanaan askep yang di susun oleh SDM
b. Pengorganisasian : metode pemberian askep berupa M. Fungsional, M. Kasus total, M tim, M keperawatan primer ( Gillies, 1989 ).
c. Pengarahan : Motivasi, manajement konflik, pendelegasian komunikasi.
d. Pengawasan dan pengendallian langsung dan tidak langsung.
- Rehabilitativ ialah memberikan kegiatan sesuai dengan kemampuan untuk pemulihan dan Home visit.
Pada pasien jiwa Khususnya Halusinasi terdapat 70% halusinasi yang di alami oleh pasien yang gangguan jiwa adalah halusinasi pendengaran, dan 20% halusinasi penglihatan, 10% adalah halusinasi penghidupan, perabaan, pengecapan..
Berdasarkan data di atas yang melatarbelakangi kenapa kami mengambil Halusinasi sebagai materi makalah kami.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
- Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi atau pengetahuan kepada pembaca mengenai pengertian dan proses halusinasi
- Diharapkan pembaca dapat mengetahui macam – macam halusinasi dan dapat membedakanya.
- Diharapkan pembaca dapat menerapkan isi dari makalah ini di lingkungan social.
2. Tujuan Khusus
- Mahaasiswa mampu melakukan pengkajian terhadap pasien halusinasi.
- Menetapkan diagnose keperawatanp pasien halusinasi
- Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien halusinasi
- Melaksanakan tindakan keperawatan kepada keluarga pasien dengan halusinasi
- Mengevaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam merawat pasien halusinasi

C. Ruang lingkup
Ruang lingkup dari makalah keperawatan jiwa halusinasi ini meliputi pengertian, jenis – jenis, tindakan dan perencanaan keperawatan pasien maupun keluaraga dan evaluasi tindakan.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
1. Research library yaitu pengambilan sumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan atau studi pustaka.
2. Web search yaitu ialah pengambilan sumber dari internet yang ada hubunganya dengan materi halusinasi.
E. Sistemtematika Penulisan
Adapun sistematika dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN Meliputi :
A. Latar belakang masalah
B. Tujuan penulisan
C. Ruang lingkup
D. Metode penulisan
E. Sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN Meliputi :
I. Konsep Dasar
II. Proses Keperawatan
BAB III PENUTUP Meliputi :
a. Kesimpulan
b. Saran.
Daftar Pustaka

BAB II
I. Konsep dasar
A. Pengertian
Gangguan orientasi realita adalah ketidak mampuan klien menilai dan berespon pada realita. Klien tidak dapat membedakan rangsang internal dan eksternal tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan klien tidak mampu meberi respon secara akurat sehingga tampak perilaku yang sukar di mengerti dan mungkin menakutkan ( WHO,th1998).
Gangguan Orientasi realita disebabkan oleh fungsi otak yang terganggu yaitu fungsi kognitif dan proses pikir, fungsi presepsi, fungsi memori, fungsi motorik dan social. Gangguan pada fungsi kognitif dan presepsi mengakibatkan kemampuan menilai dan memiliki terganggu. Gangguan fungsi emosi, motorik dan social mengakibatkan kemampuan berespon terganggu yang tampak dari perilaku non verbal (Ekspresi muka, gerakan tubuh dan perilaku verbal) penampilan hubungan social. Oleh karena gangguan orientasi realita terkait dengan fungsi otak maka gangguan atau respon, yang timbul di sebut pula respon neuorobiologik.
Gangguan orientasi realitas umumnya di temukan pada klien skizofrenia dan psikotik. Blueler mengidentifikasi gejala primer Skizofenia sebagai 4a sebagai berikut gangguan”Asosiasi”, “Afek”,”Ambivalen”,”austistik” dan di tambahkan dengan gangguan “atensi”,”aktifitas.Gejala sekunder dari skizofrenia adalah halusinasi, waham, dan gangguan daya ingat.
Halusinasi adalah presepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsangan yang menimbulkanya atau tidak ada objek.(Drs Sunardi 2005)
Halusinasi adalah distrosi presepsi yang terjadi pada respon neurobiological yang mal adatif (stuart and sunden 1998)
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang di pertahankan secara kuat / terus – menerus namun tidak sesuai kenyataan(stuart and sunden 1998).
B.Psikodinamika
1. Etiologi
Gangguan otak karena keracunan, obat halusinogenik, gangguan jiwa karena emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi, psikosisi, yang dapat menimbulkan halusinasi dan dan pengaruh sosial budaya, sosial budaya yang berbeda dapat menimbulkan persepsi berbeda atau orang yang berasal dari sosial budaya yang berbeda.
2. Proses Halusinasi
Menurut tim kesehatan jiwa fakultas kedokteran uiversitas indonesia tahap-tahap halusinasi, karakteristik dan prilaku yang ditampilkan oleh klien yang mengalami halusinasi adalah ;
Tahap 1
• Memberi nyaman tingkat ansietas sedang secara umum halusinasi merupakan suatu kesenangan
Karakteristik (non-verbal)
• Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah, dan ketakutan
• Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas
• Pikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontrol kesadaran
Prilaku klien
• Tersenyum atau tertawa sendiri
• Menggerakkan bibir atau suara
• Pergerakan mata yang cepat
• Respon verbal yang lambal
• Diam dan berkonsentrasi
Tahap II
• Menyalahkan
• Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan rasa antipati
Karakteristik ( non-verbal)
• Pengalaman sensori menakutkan
• Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut
• Mulai merasa kehilangan kontrol
• Menarik diri dari orang lain
Prilaku klien
• Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah
• Perhatian dengan lingkungan berkurang
• Konsentrasi terhadap pengalaman sensori
• Kehilangan kemampuan membedakanhalsinasi dengan realita
Tahap III
• Mengontrol
• Tingkat kecemasan
• Pengalaman sensori ( halusinasi) tidak dapat ditolak
Karakteristik (psikotik)
• Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi)
• Isi halusinasi menjadi atraktik
• Kesepian bila pengalaman sensori berakhir
Prilaku klien
• Perintah halusinasi ditandai
• Sulit berhubungan dengan orang lain
• Perhatian dengan lingkungan kurang atau hanya beberapa detik
• Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tampak tremor dan berkeringat
Tahap IV
• Menguasai tingkat kecerdasan, panik secara umum, diatur dan dipengaruhi oleh halusinasi
Karakteristik
• Pengalaman sensori menjadi mengancam
• Halusinasi dapat menjadi beberapa jam atau beberapa hari
Prilaku klien
• Prilaku panik
• Potensial untuk bunuh diri atau membunuh
• Tindak kekerasan agitasi, menarik atau katatonik
• tidak mampu merespon terhadap lingkungan
3. Manisfestasi Klinis
Menurut ahli keperawatan jiwa manifestasi klinis pada gangguan presepsi sensori halusinasi adapun perilaku yang dapat teramati ialah sebagai berikut:
a. Halusinasi penglihatan
- Melirikan mata kekiri dan kekenan seperti mencari siapa dan apa yang sedang di bicarakan.
- Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang tidak berbicara atau pada benda seperti meubel
- Terlihat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak
- Mengerak – gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara.
b. Halusinasi pendengaran
- Tiba – tiba langsung tanggap ketakutan atau di takuti oleh orang lain benda mati atau stimulus yang tidak tampak.
- Tiba –tiba berlari keruangan lain
c. Halusinasi penciuman
Perilaku yang di amati pada klien gangguan halusinasi penciuman adalah.
- Hidung yang di kerutka seperti mencium bau yang tidak enak
- Mencium bau tubuh
- Mencium bau udara ketika sedang berjalan ke arah orang lain
- Merespon terhadap bau dengan panik seperti mencium bau api atau darah
- Melempar selimut atau menuang air pada orang lain seakan sedang memadamkan api
d. Halusinasi pengecapan
Adapun perilaku yang terlihat padaklien yang mengalami gangguan halusinasi peraba adalah:
- Meludahkan makanan atau minuman
- Menolak untuk makan
- Tiba – tiba meninggalkan meja

1. Jenis – jenis Halusinasi menurut stuart and sunden 1998 adalah :
1.Halusinasi pendengaran atau Auditori
Halusinasi yang seolah – olah mendengar suara paling sering suara orang suara dapat berkisar dari suara yang sederhana sampai suara seseorang yang bicara tentang dirinya. Klien mendengar orang sedang membicarakan apa yang sedang di pikirkan oleh klien dan memerintah untuk melakukan sesuatu hal yang membahayakanya .
2.Halusinasi Penglihatan atau Visual
Halusinasi yangmerupakan stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya. Gambaran geometris, gambaran kartun atu panorama yang luas dan kompleks penglihatan dapat berupa sesuatu hal yang menyenangkan.
3.Halusinasi penghidu atau factory
Halusinasi yang seolah – olah mencium bau busuk atau bau yang menjijikan seperti darah urin, atau feses. Halusinasi penghidu Khususnya berhubungan dengan stroke, Tumor, kejang dan dimensial.
4.Halusinasi pengecap
Halusinasi yang seolah – olah merasakan sesuatu yang busuk amis dan menjijikan seperti darah urin dan feses
5.Halusinasi peraba atau tartil
Halusinasi yang seolah – olah mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang akan sensasi listrik yang datang dari tanah benda mati atau orang lain.

II.PROSES KEPERAWATAN
A. Pengkajian keperawatan Halusinasi
1 faktor predisposisi
a. Biologis
Abnormalitas yang menyebabkan respon neurobiologi yang maladaftif termasuk hal – hal berikut
- Penelitian pencitraan otak yang menunjukan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan sjizofrenia lesi pada area prontal, temporal, dan limbic.
- Beberapa kimia otak di kaitkan dengan skizofrenia seperti dopamin neurotransmiter yang berlebihan dan masalah pada respon dopamine.
b. Psikologis
Teori psikodinamika yang menggambarkan bahwa halusinasi terjadi karena adanya isi alam tidak sadar yang masuk alam sadar sebagai suatu respon terhadap konflik psikologis dan kebutuhan yang tidak terpenuhi sehingga halusinasi merupakan gambaran dan rangsangan keinginan dan ketakutan yang di alami oleh klien.
c. Sosial budaya
Stess yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan Skizoprenia dan gangguan psikotik lain tetapi dayakini sebagai penyebab utama gangguan
2. Faktor presipitasi
a. Biologi
Stress biologi yang berhubungan dengan respon neurobiologi yang maladaftif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses impormasi dan abnormalisasi pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidak mampuan untuk selektif menghadapi rangsangan.
b. Stress lingkungan
Secara biologis menentukan ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menetukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologi yang maladaftif dengan kesehatan (gizi buruk, insfeksi), lingkungan, rasa bermusuhan / lingkungan penuh kritik gangguan dalam hubungan interpersonal sikap dan perilaku (keputusan/kegagalan)






B. Rentang Respon Neurobiologi stuart and sundeen 1998
Respon Adaftif Respon Maladftif


- Pikiran logis - Perilaku terkadang menyimpang - Kelainan pikiran
- Presepsi akurat - Ilusi - halusinasi
- Emosi konsisten - Emosional berlebihan -Tidak mampu
- Perilaku sosial - Perilaku ganjil mengatur emosi
- Hubungan sosial - menarik diri - ketidakteraturan
Isolasi sosial
Keterangan Gambar :
a. Respon adaftif ialah respon yang dapat di terima oleh norma – norma sosial budaya yang masih berlaku. Dengan kata individu dalam batas normal jika dalam menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut
- Pikiran Logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan
- Presepsi akurat ialah pandangan yang tepat pada kenyataan
- Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli
- Perilaku sosial ialah sikap dan tingkah laku dalam batas kewajaran
- Hubungan sosial ialah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan
b. Respon psikososial meliputi
- Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan
- Ilusi ialah miss interprestasi atau penilain yang salah tentang penerapan yang benar – benar terjadikarena rangsangan panca indera
- Emosi berlebihan atau kurang
- Perilaku tidak biasa ialah perilaku yang yang melebihi batas kewajaran
- Menarik diri ialah percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain
c. Respon mal adaftif ialah respon individu dalam menyeleseaikan masalahyang menyimpang dengan norma – norma sosial budaya dan lingkungan. Adapun respon mal adftif ini meliputi :
- Kelainan pikir ialah keyakinan yang secara kokoh dapat di pertahankan walaupun tidak di yakini oleh orang laindan bertentangan dengan kenyataan sosial
- Halusinasi ialah presepsi sensori yang salah atau presepsi ekternal yang tidak realita atau tidak ada.
- Kerusakan proses emosi ialah kerusakan sesuatu yang timbul dari hati
- Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak teratur
- Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang di alami oleh individu dan di terima sebagai ketentuanoleh orang lain dan sebagai sutu kecelakaan yang negativ mengancam.

C. Mekanisme koping
Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman diri sendiri yang menakutkan brhubungan dengan respon neurobiologi termasuk.
- Regresi, menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti pada perilaku perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengulangi anisietas.
- Proyeksi, keinginan yang tidak dapat ditoleransi mencurahkan emosi pada orang lain karena kesalahan diri sendiri.
- Menarik diri, reaksi yang di tampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindari sumber stressor, misalnya menjauhi polusi sumber infeksi gas beracun dan lain – lain. sedangkan reaksi psikologis individu manunjukan reaksi apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai ras takut dan bermusuhan.
D. Pohon Masalah
berdasarkan pengkajian di atas maka dapat disusun permasalahanya sebagai berikut.
Perilaku kekerasan


Gangguan sensori presepsi halusinasi




Isolasi sosial

E. Diagnosa keperawatan
Dari pohan masalah diatas dapat disimpulkan bahwa masalah keperawatan yang terdapat pada klien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi adalah sebagai berikut;
1. Resiko prilaku kekerasan
2. Gangguan persepsi sensori halusinasi
3. Isolasi sosial

F. Perencanan keperawatan
Langkah kedua dari proses keperawatan adalah perencanaan dimana perawat akan menyusun rencana yang akan dilakukan pada klien untuk mengatasi masalah, perencanaan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan diagnosa satu atau masalah utamanya adalah gangguan persepsi sensori halusinasi.
DX 1 Resiko perilaku kekerasaan
1. Pasien PK
SP 1
- Membina hubungan saling percaya
- Mendiskusikan penyebab PK
- Mendiskusikan tanda dan gejala PK
- Mendiskusikan akibat PK
- Melatih mencegah PK dengan cara fisik tarik napas dalam
- Memasukan ke jadwal kegiatan harian
Sp 2
- Mendiskusikan kegiatan dalam mencegah PK secara fisik
- Melatih cara sosila untuk mengekspresikan marah
- Menganjurkan pasien memasukan kejadwal kegiatan harian pasien.
SP 3
- Mendiskusikan jadwal kegiata harian mencegah PK dengan cara social
- Melatih cara spiritual untuk mencegah PK
- Menganjurkan memasukan ke jadwal harian PK
SP 4
- Mendiskusikan jadwal kegiatan harian mencegah PK dengan cara spiritual
- Mendiskusikan manfaat obat
- Menjelaskan kerugian apabila tidak patuh obat
- Menjelaskan 5 benar dalam pemberian obat.
2. Keluarga pasien PK
SP 1
- Mengidentifikasi kemampuan keluarga dalam menangani klien
- Menjelaskan peran serta kluarga dalam merawat klien
- Mejelaskan keluarga dalam cara merawat PK
SP 2
- Melatih keluarga dalam merawat PK
- Mejelaskan pemberian obat untuk PK
Sp 3
- Menjelaskan sumber rujukan untuk mengatasi anak PK
- Mendoronng untuk memanfaatkan sarana yang tersedia.
DX 2 Gangguan presepsi sensori halusinasi
1. Pasien Halusinasi.
SP 1
- Membina hubungan saling percaya
- Mengidentifikasi halusinasi jenis halusinasi pasien.
- Mengidentifikasi isi halusinasi pasien.
- Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien.
- Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien.
- Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi.
- Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi.
- Mengajarkan pasien menghardik halusinasi.
- Menganjurkan klien memasukan cara menghardik halusinasi dalam kegiatan harian.
SP 2
- Mengevaluasi jadwal harian pasien.
- Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap – cakap dengan orang lain.
- Menganjurkan pasien memasukan dalam jadwal harian pasien.
SP 3
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.
- Melatih pasien mengendalikan halusinasinya dengan melakukan kegiatanya ( kegiatan yang bisa di lakukan oleh pasien ).
- Menganjurka pasien memasukan dalam jadwal hariannya.
SP 4
- Mengevaluasi jadwal harian pasien.
- Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur.
- Mengajurkan pasien memasukan dalam jadwal kegiatan harian.
2. Keluarga pasien dengan halusinasi.
DX 2 Gangguan Presepsi Sensori Halusinasi
Sp 1
- Mendiskusikan masalah yang di rasakan keluarga ketika merawat klien
- Menjelaskan pengertian tanda dan gejala halusinasi dan jenis halusinasi yang di alami pasien beserta proses terjadinya.
- Menjelaskan cara – cara merawat pasien halusinasi.
SP 2
- Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan halusinasi.
- Melatih keluarga melakukan cara langsung merawat pasien halusinasi.
SP 3
- Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas termasuk minum obat.
- Menjelaskan follow up pasien setelah pulang.
DX 3 Isolasi Sosial
1. Pasien Isolasi social
SP 1
- Membina hubungan saling percaya
- Mengidentifikasi penyebab isolasi pasien
- Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berdiskusi dengan orang lain
- Berdiskusi dengan klien tentang kerugian tidak berdiskusi dengan orang lain
- Mengajarkan klien cara berkenalan dengan orang lain
- Menganjurkan klien memasukan kegiatan atau latiah berbincang ke dalam jadwal kegiatan harian klien
SP 2
- Mengevalusi jadwal kegiatan harian klien
- Memberikan kesempatan kepada klien mempraktekan cara berkenalan dengan orang lain
- Membantu klien memasukan latihan berbincang – bincang kejadwal harian klien
SP 3
- Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
- Memberikan kesempatan kepada klien berkenalan kepada orang lain dua orangb atau lebih
- Menganjurkan klien memasukan kepada jadwal kegiatan harian klien
2. Keluarga PK
SP 1
- Mendiskusikan masalah yang dirasakan oleh keluarga dalam merawat klien
- Menjkelaskan pengertian tanda dan gejala yang di alami oleh pasien beserta proses terjadinya
- Menjelaskan cara – cara merawat isolasi social
SP 2
- Melatih keluarga cara mempraktekan merawat klien dengan isolasi social.
- Melatih keluarga cara merawat langsung klien dengan isolasi social
SP 3
- Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat.
- Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

G. implementasi
Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata sering pelaksanaan jauh berbeda dengan rencana. Hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan.
Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan, perawat perlu menvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan yang dibutuhkan klien sesuai dengan kondisi nya (here and now).
Perawat juga menilai diri sendiri, apakah kemampuan interpersonal, intektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang akn dilaksanakan, dinilai kembali apakah aman bagi klien. Setelah semuanya tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan. Pada saat akan dilaksanakan maka tindakan keperawatan kontrak dengan klien dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta klien yang diharapkan. Dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan serta respon klien.

H. evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan, evaluasi dapat dibagi dua jenis yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan selesai melaksanakn tindakan dan evaluasi hasil atau somatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan umun dan tujuan khusus yang telah ditentukan.
Evaluasi dapat dilakukan evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola pikir, dimana masing-masing huruf tersebut akan diuraikan sebagai berikut;
S; respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O; respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
A; Analisa ulang terhadap data subjektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada.
P; percanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien
Evaluasi tindakan keperawatan :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
4. Klien dapat dukungan dari keluarga dalam menghadapi hlusinasinya
5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
I. Tujuan Umum dan Khusus
Tujuan umum adalah klien dapat mengontrol halusinasi yang dialami.
Adapun tujuan khusus pada diagnosa ini adalah;
1. Membina hubungan saling percaya dengan cara
Bina saling percaya denan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
• Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non-verbal
• Perkanalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berinteraksi
• Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien
• Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi
• Tujukan sikap empatik dan menerima klien apa adanya
• Berikan perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
• Tanyakan perasaan klien dan masalh yang dihadapi klien
• Buat kontrak interaksi yang jelas
• Dengarkan dengan penuh perhatian
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
 Adakan kontrsk sering dan singkat secara bertahap,
 Observasi tingkah laku klien yang terkait dengan halusinasinya, dengar, lihat, penghidu, raba, dan pengecapan, jika menemukan klien yang sedang halusinasi maka;
• Tanyakan apakah klien mengalami sesuatu ( halusinasi dengar, lihat, penghidu, peraba, pengecap)
• Jika klien menjawab ya, tanyakn apa yang dialaminya
• Katakan bahwa perawat percaya klien mengalamihal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya ( dengan nada bersahabat tanpa menuduh dan menghakimi)
• Katakan bahwa ada klien lain yang mengalami hal yang sama
• Katakan bahwa perawat akan membantu
 Jika klien tidak sedang berhalusinasi, klasifikasi tentag adanya pengalaman halusinsi, diskusikan dengan klien.
• Isi waktu dan frekuensi halusinasi (pagi, siang, sore, malam) atau sering dan kadang-kadang. Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusianasi.
• Diskudikan dengan klien apa yang dirasakanjika terjadi halusinasi dan beri kesempetan pada klien untuk mengungkapkan persaannya
• Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut
• Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bala klien berhalusinasi
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
 Identifikasi bersama klien, cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukan diri dan lain-lain).
 Diskusikan cara yang digunakan;
• Jika cara Yang digunakan klien adaptif, maka berikan pujian
• Jika cara yang digunakan maladaptif, diskusikan dengan klien kerugian tersebut
 Diskusikan cara baru untuk memutus atau mengontrol timbul nya halusinasi dengan cara;
• Katakan pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata, katakan saya tidak mau dengar, lihat. Cium, meraba, dan mengecap pada saat halusinasi terjadi
• Menemui orang lain atau perawat teman ataupun anggota keluarga untuk menceritakan halui orang lain atau perawat teman ataupun anggota keluarga untuk menceritakan halusinasinya
• Membuat atausinasinya
• Membuat atau melaksanakan jadwal kegiatan harian yang telah disusun
• Meminta keluarg melaksanakan jadwal kegiatan harian yang telah disusun
• Meminta keluarga teman, perawat menyapa klien jika sedang berhalusinasi
 Bantu klien memilih cara yaang sudah dianjurkan dan latih udah dianjurkan dan latih untuk mencoba nya.
 Beri kesempatan pada klien untuk melakukan cara yaang dipilih dan dilatih.
 Pantau pelaksanaan yaang telah dipih dan dilatih jika berhasil berikan pujian.
 Anjurkan klien mengikuti terapi aktifitas kelompok, orientasi realitas stimulasi persepsi.
4. Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi nya
 Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan ( waktu, tempat dan topik).
 Diskusikan dengan keluarga tentang;
• Pengertian halusinasi
• Tanda dan gejala halusinasi
• Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi
• Obat halusinasi
• Cara merawat anggota keluarga yang bila halusinasi firumah ( beri kegiata, jangan biarkan sendiri, makan bersama, memantau obat-obatan, dan cara pemberian nya untuk mengatasi halusinasi).
• Beri informasi waktu kontrol kerumah sakit dan bagaimana cara mencari bantuan jiak halusinasi nya tidak dapat diatasi dirumah.
5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
  • Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian bila tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.
  • Pantau klien daat menggunakan obat.
  • Bari pujian bila klien menggunakan obat dengan benar.\
  • Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.
  • Anjurkan klien untun konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
     Gangguan orientasi realita adalah ketidak mampuan klien menilai dan berespon pada realita. Klien tidak dapat membedakan rangsang internal dan eksternal tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan klien tidak mampu meberi respon secara akurat sehingga tampak perilaku yang sujar di mengerti dan mungkin menakutkan. Dan gangguan orientasi realita meliputi halusinasi.
b. Saran
    Jadilah perawat yang propesional jangan menganggap orang gangguan jiwa itu orang yang hina dan ambilah hikmah dari setiap apa yang kita telah kerjakan and be sucses person.

ASKEP SLE

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik (LES) adalah penyakit radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya diduga karena adanya perubahan sistem imun (Albar, 2003).
SLE termasuk penyakit collagen-vascular yaitu suatu kelompok penyakit yang melibatkan sistem muskuloskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi klinik sehingga diperlukan pengobatan yang kompleks. Etiologi dari beberapa penyakit collagen-vascular sering tidak diketahui tetapi sistem imun terlibat sebagai mediator terjadinya penyakit tersebut (Delafuente, 2002).
Penderita SLE diperkirakan mencapai 5 juta orang di seluruh dunia. Prevalensi pada berbagai populasi berbeda – beda bervariasi antara 3 – 400 orang per 100.000 penduduk (Albar, 2003).
SLE lebih sering ditemukan pada ras-ras tertentu seperti bangsa Afrika – Amerika, Cina, dan mungkin juga Filipina. Di Amerika, prevalensi SLE kira-kira 1 kasus per 2000 populasi dan insiden berkisar 1 kasus per 10.000 populasi (Bartels, 2006). Prevalensi penderita SLE di Cina adalah 1 :1000 (Isenberg and Horsfall,1998).
Meskipun bangsa Afrika yang hidup di Amerika mempunyai prevalensi yang tinggi terhadap SLE, penyakit ini ternyata sangat jarang ditemukan pada orang kulit hitam yang hidup di Afrika. Di Inggris, SLE mempunyai prevalensi 12 kasus per 100.000 populasi, sedangkan di Swedia 39 kasus per 100.000 populasi. Di New Zealand, prevalensi penyakit ini pada Polynesian sebanyak 50 kasus per 100.000 populasi dan hanya 14,6 kasus per 100.000 populasi pada orang kulit putih (Bartels, 2006).
Di Indonesia sendiri jumlah penderita SLE secara tepat belum diketahui tetapi diperkirakan sama dengan jumlah penderita SLE di Amerika yaitu 1.500.000 orang (Yayasan Lupus Indonesia).
Berdasarkan hasil survey, data morbiditas penderita SLE di RSU Dr. Soetomo Surabaya selama tahun 2005 sebanyak 81 orang dan prevalensi penyakit ini menempati urutan keempat setelah osteoartritis, reumatoid artritis, dan low back pain. Di RSU Dr. Saiful Anwar Malang, penderita SLE pada bulan Januari sampai dengan Agustus 2006 ada 14 orang dengan 1 orang meninggal dunia. Setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 penderita baru. Hal ini disebabkan oleh manifestasi penyakit yang sering terlambat diketahui sehingga berakibat pada pemberian terapi yang inadekuat, penurunan kualitas pelayanan, dan peningkatan masalah yang dihadapi oleh penderita SLE. Masalah lain yang timbul adalah belum terpenuhinya kebutuhan penderita SLE dan keluarganya tentang informasi, pendidikan, dan dukungan yang terkait dengan SLE. Oleh karena itu penting sekali meningkatkan kewaspadaan masyarakat tentang dampak buruk penyakit SLE terhadap kesehatan serta dampak psikologi dan sosialnya yang cukup berat untuk penderita maupun keluarganya. Kurangnya prioritas di bidang penelitian medik untuk menemukan obat-obat penyakit SLE yang baru, aman dan efektif, dibandingkan dengan penyakit lain juga merupakan masalah tersendiri (Yayasan Lupus Indonesia).
Manifestasi klinis dari SLE bermacam-macam meliputi sistemik, muskuloskeletal, kulit, hematologik, neurologik, kardiopulmonal, ginjal, saluran cerna, mata, trombosis, dan kematian janin (Hahn, 2005). Penderita SLE dengan manifestasi kulit dan muskuloskeletal mempunyai survival rate yang lebih tinggi daripada dengan manifestasi klinik renal dan central nervous system (CNS). Meskipun mempunyai survival rate yang berbeda, penderita dengan SLE mempunyai angka kematian tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang sehat. Saat ini prevalensi penderita yang dapat mencapai survival rate 10 tahun mendekati 90%, dimana pada tahun 1955 survival rate penderita yang mencapai 5 tahun kurang dari 50%. Peningkatan angka ini menunjukkan peningkatan pelayanan terhadap penderita SLE yang berkaitan dengan deteksi yang lebih dini, perawatan dan terapi yang benar sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan farmasi. Penyebab mortalitas paling tinggi terjadi pada awal perjalanan penyakit SLE adalah infeksi yang disebabkan oleh pemakaian imunosupresan. Sedangkan mortalitas pada penderita SLE dengan komplikasi nefritis paling banyak ditemukan dalam 5 tahun pertama ketika dimulainya gejala. Penyakit jantung dan kanker yang berkaitan dengan inflamasi kronik dan terapi sitotoksik juga merupakan penyebab mortalitas.
The Framingham Offspring Study menunjukkan bahwa wanita dengan usia 35 – 44 tahun yang menderita SLE mempunyai resiko 50 kali lipat lebih besar untuk terkena infarct miocard dari pada wanita sehat. Penyebab peningkatan penyakit coronary artery disease (CAD) merupakan multifaktor termasuk disfungsi endotelial, mediator inflamasi, kortikosteroid yang menginduksi arterogenesis, dan dislipidemia yang berkaitan dengan penyakit ginjal (salah satu manifestasi klinis dari SLE). Dari suatu hasil penelitian menunjukkan penyebab mortalitas 144 dari 408 pasien dengan SLE yang dimonitor lebih dari 11 tahun adalah lupus yang akif (34%), infeksi (22%), penyakit jantung (16%), dan kanker (6%) (Bartels, 2006).
Penderita dengan SLE membutuhkan pengobatan dan perawatan yang tepat dan benar. Pengobatan pada penderita SLE ditujukan untuk mengatasi gejala dan induksi remisi serta mempertahankan remisi selama mungkin pada perkembangan penyakit. Karena manifestasi klinis yang sangat bervariasi maka pengobatan didasarkan pada manifestasi yang muncul pada masing-masing individu.
Dan Peran Perawat pada kasus halusinasi ini meliputi :
- Promotif ialah memberikan penyuluhan tentang penyakit SLE kepada individu,keluarga dan masyarakat.
- Preventiv ialah memberikan pendidikan tentang SLE kepada individu, keluarga dan masyarakat.
- Curativ ialah memberikan askep dengan pendekatan proses keperawatan baik untuk individu, keluarga dan masyarakat dengan menggunakan pendekatan manajemen keperawatan yang terdiri dari : perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan secara konsisten berupa :
a. Perencanaan askep yang di susun oleh SDM
b. Pengorganisasian : metode pemberian askep berupa M. Fungsional, M. Kasus total, M tim, M keperawatan primer ( Gillies, 1989 ).
c. Pengarahan : Motivasi, manajement konflik, pendelegasian komunikasi.
d. Pengawasan dan pengendallian langsung dan tidak langsung.
- Rehabilitativ ialah memberikan kegiatan yang mempunyai efek positif terhadap SLE supaya tidak terulang dan mencegah faktor Genetik.
Berdasarkan data di atas yang melatarbelakangi kenapa kelompok kami mengambil SLE ( sistemik Lupus Erythematosus ) sebagai materi makalah kami.
B. Tujuan penulisan
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari atau membahas makalah ini kelompok dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah sistemics lupus erythematosus ( SLE )
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan sistemics lupus ertythematosus ( SLE )
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan sistemics lupus erythematosus ( SLE )
c. Mampu merencanakan tindakan keperwatan pada klien dengan sistemic lupus erythematosus ( SLE )
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan sistemics lupus erythematosus ( SLE )
e. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan sistemics lupus erythematosus( SLE )

C. Ruang lingkup
Ruang lingkup dari makalah keperawatan dengan sistemics lupus erythematosus yaitu asuhan keperawatan pada klien dengan sistemics lupus erythematosus ( SLE )

D. Metode penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
1. Research library yaitu pengambilan sumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan atau studi pustaka.
2. Web search yaitu ialah pengambilan sumber dari internet yang ada hubunganya dengan sistemics lupus erythematosus ( SLE ).






E. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN ( Latar belakang, Tujuan penulisan, Ruang lingkup, Metode penulisan, Sistematika penulisan )
BAB II TINJAUAN TEORITIS ( Definisi, Etiologi, Fatopisiologi, tanda dan gejala, komplikasi, pemeriksaan diagnostik, Pengobatan, Askep )
BAB III PENUTUP ( Kesimpulan, Saran )

Daftar fustaka

















BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik (LES) adalah penyakit radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya diduga karena adanya perubahan sistem imun (Albar, 2003).
SLE merupakan penyakit radang atau inflamasi multisistem yang disebabkan oleh banyak faktor (Isenberg and Horsfall,1998) dan dikarakterisasi oleh adanya gangguan disregulasi sistem imun berupa peningkatan sistem imun dan produksi autoantibodi yang berlebihan (Albar, 2003).
SLE termasuk penyakit collagen-vascular yaitu suatu kelompok penyakit yang melibatkan sistem muskuloskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi klinik sehingga diperlukan pengobatan yang kompleks. Etiologi dari beberapa penyakit collagen-vascular sering tidak diketahui tetapi sistem imun terlibat sebagai mediator terjadinya penyakit tersebut (Delafuente, 2002).
B. Etiologi
1. Faktor genetik
Mempunyai peranan yang sangat penting dalam kerentanan dan ekspresi penyakit SLE. Sekitar 10% – 20% pasien SLE mempunyai kerabat dekat (first degree relative) yang menderita SLE. Angka kejadian SLE pada saudara kembar identik (24-69%) lebih tinggi daripada saudara kembar non-identik (2-9%). Penelitian terakhir menunjukkan bahwa banyak gen yang berperan antara lain haplotip MHC terutama HLA-DR2 dan HLA-DR3, komponen komplemen yang berperan pada fase awal reaksi pengikatan komplemen yaitu C1q, C1r, C1s, C3, C4, dan C2, serta gen-gen yang mengkode reseptor sel T, imunoglobulin, dan sitokin (Albar, 2003) .


2. Faktor lingkungan
Pada Faktor lingkungan yang menyebabkan timbulnya SLE yaitu sinar UV yang mengubah struktur DNA di daerah yang terpapar sehingga menyebabkan perubahan sistem imun di daerah tersebut serta menginduksi apoptosis dari sel keratonosit.
SLE juga dapat diinduksi oleh obat tertentu khususnya pada asetilator lambat yang mempunyai gen HLA DR-4 menyebabkan asetilasi obat menjadi lambat, obat banyak terakumulasi di tubuh sehingga memberikan kesempatan obat untuk berikatan dengan protein tubuh. Hal ini direspon sebagai benda asing oleh tubuh sehingga tubuh membentuk kompleks antibodi antinuklear (ANA) untuk menyerang benda asing tersebut (Herfindal et al., 2000). Makanan seperti wijen (alfafa sprouts) yang mengandung asam amino L-cannavine dapat mengurangi respon dari sel limfosit T dan B sehingga dapat menyebabkan SLE (Delafuente, 2002). Selain itu infeksi virus dan bakteri juga menyebabkan perubahan pada sistem imun dengan mekanisme menyebabkan peningkatan antibodi antiviral sehingga mengaktivasi sel B limfosit nonspesifik yang akan memicu terjadinya SLE (Herfindal et al., 2000).

3. Patofisiologi
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal ( sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu seperti hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan di samping makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia atau obat-obatan.
Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya serangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali.



4. Pathway SLE
Gangguan Respon Imun

Stimulasi Antigen
( Bahan Kimia, DNA Bakteri, Antigen Virus, Fosfolipid, Protein, DNA dan RNA )

Aktivasi Sel T

Memproduksi Sitokin

Sel B Terangsang

Produksi Autoantibodi Yang patogen
Peningkatan Sel Antibodi Hipergamaglobulinemia
Pembentukan Kompleks Imun




5. Tanda dan gejala
1. Sistem Muskuloskeletal
Artralgia, artritis (sinovitis), pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari.
2. Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung serta pipi. Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum.
3. Sistem kardiak
Perikarditis merupakan manifestasi kardiak.
4. Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
5. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole terminalis yang menimbulkan lesi papuler, eritematous dan purpura di ujung jari kaki, tangan, siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan berlanjut nekrosis.
6. Sistem perkemihan
Glomerulus renal yang biasanya terkena.
7. Sistem saraf
Spektrum gangguan sistem saraf pusat sangat luas dan mencakup seluruh bentuk penyakit neurologik, sering terjadi depresi dan psikosis.

6. Komplikasi
a. Gagal Ginjal
b. Kerusakan Jaringan Otak
c. Infeksi Sekunder

7. Pemeriksaan Penunjang
a. CBC (Complete Blood Cell Count) untuk mengukur jumlah sel darah, maka terdapat anemia, leukopenia,trombositopenia.
b. ESR(Erithrocyte Sedimen Rate), laju endap darah pada lupus akan ESR akan lebih cepat dari pada normal.
c. (biopsi) untuk mengetahui fungsi hati dan ginjal
d. Urinalysis pengukuran urinĂ  kadar protein dan sel darah merah
e. X-ray dada
f. Uji imunofluroresensi ANA pada setiap pasien SLE + sehingga uji tersebut sangat sensitif.

8. Pengobatan
1. Preparat NSAID untuk mengatasi manifestasi klinis minor dan dipakai bersama kortikosteroid, secara topikal untuk kutaneus.
2. Obat antimalaria untuk gejal kutaneus, musPemeriksaan kuloskeletal dan sistemik ringan SLE
3. Preparat imunosupresan ( pengkelat dan analog purion ) untuk fungsi imun.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Anamnesis riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik difokuskan pada gejala sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan mudah lelah, lemah, nyeri, kaku, demam/panas, anoreksia dan efek gejala tersebut terhadap gaya hidup serta citra diri pasien.
2. Kulit
Ruam eritematous, plak eritematous pada kulit kepala, muka atau leher.
3. Kardiovaskuler
Friction rub perikardium yang menyertai miokarditis dan efusi pleura.
Lesi eritematous papuler dan purpura yang menjadi nekrosis menunjukkan gangguan vaskuler terjadi di ujung jari tangan, siku, jari kaki dan permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tanga.
4. Sistem Muskuloskeletal
Pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari.
5. Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung serta pipi. Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum
6. Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
7. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole terminalis yang menimbulkan lesi papuler, eritematous dan purpura di ujung jari kaki, tangan, siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan berlanjut nekrosis.
8. Sistem Renal
Edema dan hematuria.
9. Sistem saraf
Sering terjadi depresi dan psikosis, juga serangan kejang-kejang, korea ataupun manifestasi SSP lainnya.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan kerusakan jaringan.
2. Keletihan berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa nyeri, depresi.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kelemahan otot, rasa nyeri pada saat bergerak, keterbatasan daya tahan fisik.
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungqan dengan perubahan dan ketergantungan fisaik serta psikologis yang diakibatkan penyakit kronik.
5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit, penumpukan kompleks imun.

C. Intervensi
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan kerusakan jaringan.
Tujuan : perbaikan dalam tingkat kennyamanan
Intervensi :
a. Laksanakan sejumlah tindakan yang memberikan kenyamanan (kompres panas /dingin, masase, perubahan posisi, istirahat; kasur busa, bantal penyangga, bidai, teknik relaksasi, aktivitas yang mengalihkan perhatian)
b. Berikan preparat antiinflamasi, analgesik seperti yang dianjurkan.
c. Sesuaikan jadwal pengobatan untuk memenuhi kebutuhan pasien terhadap penatalaksanaan nyeri.
d. Dorong pasien untuk mengutarakan perasaannya tentang rasa nyeri serta sifat kronik penyakitnya.
e. Jelaskan patofisiologik nyeri dan membantu pasien untuk menyadari bahwa rasa nyeri sering membawanya kepada metode terapi yang belum terbukti manfaatnya.
f. Bantu dalam mengenali nyeri kehidupan seseorang yang membawa pasien untuk memakai metode terapi yang belum terbukti manfaatnya.
g. Lakukan penilaian terhadap perubahan subjektif pada rasa nyeri.
2. Keletihan berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa nyeri, depresi.
Tujuan : mengikutsertakan tindakan sebagai bagian dari aktivitas hidup sehari-hari yang diperlukan.
Intervensi :
a. Beri penjelasan tentang keletihan :
- Hubungan antara aktivitas penyakit dan keletihan
- Menjelaskan tindakan untuk memberikan kenyamanan sementara melaksanakannya
- Mengembangkan dan mempertahankan tindakan rutin unutk tidur (mandi air hangat dan teknik relaksasi yang memudahkan tidur)
- Menjelaskan pentingnya istirahat untuk mengurangi stres sistemik, artikuler dan emosional
- Menjelaskan cara mengggunakan teknik-teknik untuk menghemat tenaga
- Kenali faktor-faktor fisik dan emosional yang menyebabkan kelelahan.
b. Fasilitasi pengembangan jadwal aktivitas/istirahat yang tepat.
c. Dorong kepatuhan pasien terhadap program terapinya.
d. Rujuk dan dorong program kondisioning.
e. Dorong nutrisi adekuat termasuk sumber zat besi dari makanan dan suplemen.
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kelemahan otot, rasa nyeri pada saat bergerak, keterbatasan daya tahan fisik.
Tujuan : mendapatkan dan mempertahankan mobilitas fungsional yang optimal.
Intervensi :
a. Dorong verbalisasi yang berkenaan dengan keterbatasan dalam mobilitas.
b. Kaji kebutuhan akan konsultasi terapi okupasi/fisioterapi :
- Menekankan kisaran gherak pada sendi yang sakit
- Meningkatkan pemakaian alat bantu
- Menjelaskan pemakaian alas kaki yang aman.
- Menggunakan postur/pengaturan posisi tubuh yang tepat.
c. Bantu pasien mengenali rintangan dalam lingkungannya.
d. Dorong kemandirian dalam mobilitas dan membantu jika diperlukan
- Memberikan waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas
- Memberikan kesempatan istirahat sesudah melakukan aktivitas
- Menguatkan kembali prinsip perlindungan sendi
4. Gangguan citra tubuh berhubungqan dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta psikologis yang diakibatkan penyakit kronik.
Tujuan : mencapai rekonsiliasi antara konsep diri dan erubahan fisik serta psikologik yang ditimbulkan penyakit
Intervensi :
a. Bantu pasien untuk mengenali unsur-unsur pengendalian gejala penyakit dan penanganannya.
b. Dorong verbalisasi perasaan, persepsi dan rasa takut
- Membantu menilai situasi sekarang dan menganli masahnya.
- Membantu menganli mekanisme koping pada masa lalu.
- Membantu mengenali mekanisme koping yang efektif.
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit, penumpukan kompleks imun.
Tujuan : pemeliharaan integritas kulit.
Intervensi :
a. Lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan maserasi
b. Hilangkan kelembaban dari kulit
c. Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya sedera termal akibat penggunaan kompres hangat yang terlalu panas.
d. Nasehati pasien untuk menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.
e. Kolaborasi pemberian NSAID dan kortikosteroid.

h. Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan. Adapunevaluasi yang di harapkan pada klien dengan kasus SLE ( Sistemisc lupus erythematosus ) ialah :
a. Skala nyeri normal dan nyeri berkurang.
b. Aktivitas sehari – hari teratur sesuai kebutuhan dan di sesuaikan dengan kondisi klien.
c. Klien dapat melakukan imobilisasi dalam memenuhi kegiatan sehari – harinya.
d. Integritas kulit kembali normal ( Elastis, Halus dan bersih ).
e. Klien mengerti dan menerima terhadap penyakitnya.































BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistemisc lupus erythematosus ( SLE ) adalah penyakti radang multisistem yang sebabnya belum diketahui, dengan perjalanan penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan eksaserbasi disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi dalam tubuh adapun tanda dan gejalanya seperti sistem muskuloskeletal, sistem integumen, sistem kardiak, sistem pernapasan, sistem vaskuler, sistem perkemihan, sistem saraf adapun untuk pengobatannya seperti
- Preparat NSAID untuk mengatasi manifestasi klinis minor dan dipakai bersama kortikosteroid, secara topikal untuk kutaneus.
- Obat antimalaria untuk gejal kutaneus, muskuloskeletal dan sistemik ringan SLE
- Preparat imunosupresan (pengkelat dan analog purion) untuk fungsi imun.
B. Saran
Sebagai tenaga propesional tindakan perawat dalam penanganan masalah keperawatan khususnya sistemics lupus erythematosus ( SLE ) harus di bekali dengan pengetahuan yang luas dan tindakan yang di lakukan harus rasional sesuai gejala penyakit.








DAFTAR PUSTAKA
http.www.google/sistemics lupus erythematosus.com
MD. Daniel J.Wallace.THE LUPUS BOOK.B first.2007 Jogjakarta

ASKEP SISTEM PERNAPASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan.
1. Sistem pernafasan terdiri daripada hidung , trakea , peparu , tulang rusuk , otot interkosta , bronkus , bronkiol , alveolus dan diafragma .
2. Udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea .
3. Dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan sentiasa terbuka
4. Trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang disambungkan kepada peparu .
5. Kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada hujung bronkiol .
6. Alveolus mempunyai penyesuaian berikut untuk memudahkan pertukaran gas :
( a ) diliputi kapilari darah yang banyak
( b ) dinding sel yang setebal satu sel ( dinding sel yang nipis ) .
( c ) permukaan yang luas dan lembap .
Mekanisma pernafasan
A. Mekanisma ini terbahagi kepada tarikan nafas dan hembusan nafas .
B. Ia melibatkan perubahan kepada :
 Otot interkosta
 Tulang rusuk
 Diafragma
 Isipadu rongga toraks
 Tekanan udara di peparu
C. Semasa tarik nafas ,

Otot interkosta luar mengecut( =Tulang rusuk dinaikkan ke atas ) ; otot diafragma mengecut ( =diafragma menjadikannya leper ), isipadu rongga toraks bertambah dan tekanan udara peparu menjadi rendah , tekanan udara di luar yang lebih tinggi menolak udara kedalam peparu .

D. Semasa hembus nafas ,

Otot interkosta luar mengendur ( =Tulang rusuk dmenurun ke bawah ) ; otot diafragma mengendur ( =diafragma melengkung ke atas ), isipadu rongga toraks berkurang dan tekanan udara peparu menjadi tinggi , tekanan udara dalam peparu yang lebih tinggi menolak udara keluar .

E. Tujuan Pemeriksaan
- Untuk memahami struktur organ pernafasan
- Untuk memahami fungsi organ pernafasan dan dapat menjelaskan fungsi organ pernafasan
Berdasarkan data di atas melatar belakangai mengapa kami mengambil materi system pernapasan sebagai bahan makalah kami dan menimbulkan ketertarikan kami untuk membahas materi system pernapasan.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
- Supaya pembaca dapat mengerti prosedur dan tindakan persiapan pemeriksaan diagnostic yang benar
2. Tujuan Khusus
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan analisa gas darah (AGD)
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan sputum
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan cairan fleura
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan radioilogi
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan spirometri
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan broncoscopy
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan broncoghrapy
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan fleura fungsi
C. Ruang lingkup
Ruang lingkup dari makalah keperawatan medical bedah ini meliputi pengertian, alat dan bahan, persiapan klien, prosedur tindakan, tujuan tindakan.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
1. Research library yaitu pengambilan sumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan atau studi pustaka.
2. Web search yaitu ialah pengambilan sumber dari internet yang ada hubunganya dengan materi pemeriksaan system pernapasan
E. Sistemtematika Penulisan
Adapun sistematika dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN meliputi : Latar belakang masalah, Tujuan penulisan
A. Ruang lingkup
B. Metode penulisan
C. Sistematika penulisan

BAB II PEMBAHASAN meliputi : Laboratorium (Analisa Gas darah, Sputum, Cairan fleura), Radiologi
I. Spirometri
II. Broncoscopy
III. Bronchograpy
IV. Fleura pungsi
BAB III PENUTUP Meliputi :
a. Kesimpulan
b. Saran.
Daftar Pustaka









BAB II
I. Labolatorium
1. Analisa gas darah
a. Definisi
Analisa gas darah adalah suatu pemeriksaan daya serap / interaksi darah dengan gas yang dihirup lewat pernafasan. sampel darah diambil langsung dari arteri.
b. Tujuan
- Mengetahui tekanan parsial gas dalam darah arteri
- Mengetahui status buffer/penyangga tubuh
c. Indikasi
- Curiga terdapat kelainan pH, pO2 dan pCO2
- Serangan akut pada penyakit paru obstruksif, seperti asma, PPOK dan sindrom obstruksi pascatuberkulosis (SOPT)
- penderita gagal napas
- Penderita dengan kelainan obstruksi derajat sedang dan berat
d. Kontraindikasi
Absolut : Tidak ada
Relatif : Kelainan faal hemostasis
e. Persiapan
1.Bahan dan alat :
- Kapas alcohol
- Kasa steril
- Heparin 1000 USP unit/ml sebanyak 0,5 ml
- Semprit 2,5 ml atau 5 ml 1 buah
2. Pasien :
- Sebaiknya pasien dalam keadaan santai, duduk nyaman dengan posisi ½ berbaring selama kurang lebih 10 menit
- Saat pemeriksaan pasien tidak boleh menahan napas, menangis atau hiperventilasi karena cemas oleh karena dapat mempengaruhi hasil
3. Ruang dan fasiliti :
Tidak diperlukan ruang khusus
Prosedur tindakan :
- Hisap heparin 0,5 ml menggunakan semprit yang akan digunakan hingga seluruh dinding sebelah dalam semprit tersebut basah, kemudian keluarakan seluruh heparin tersebut maka akan tersisa heparin dengan volume sekitar 0,14 ml
- Lokasi pengambilan darah arteri yang dianjurkan adalah a. radialis atau a. brakialis jika tidak dapat dilakukan pada daerah tersebut maka pilihan terakhir adalah a. femoralis
- Setelah dilakukan tindakan anti septic menhggunakan kapas alcohol maka jarum ditusukan langsung ke arteri dengan membentuk sudut sekecil mungkin dan maksimal 45 derajat. Tekanan darah arteri sendiri akan menyebabkan pulsasi dan darah akan terhisap dengan sendirinya ke dalam semprit, kecuali pada pasien dalam keadaan syok maka katup semprit harus ditarik untuk menghisap darah.
- Setelah jumlah darah yang dibutuhkan telah cukup maka jarum dicabut
- Jika terdapat gelembung udara maka segera keluarkan gelemmbung tersebut dan ujung jarum dipasang penutup menggunakan gabus atau karet
- Gulirkan dalam kedua telapak tangan semprit berisi darah tersebut agar bercampur dengan heparin
- Tekan daerah penusukan menggunakan kasa kering dan steril selama kurang lebih 3 menit, jika pasien mendapat terapi antikoagulan maka penekanan dapat dilakukan selama 15 – 20 menit jika diperlukan maka dapat dilakukan pemasangan bebat
- Jika bahan pemeriksaan tidak segera dianalisis maka bahan tersebut harus disimpan dalam wadah beerisi air dan es
Penyulit :
- Hematoma,
- emboli udara atau bekuan darah,
- arterispasme,
- perdarahan dan infeksi
- Interpretasi
Normal :
- pH : 7,35 – 7,45
- PaCO2 : 35 – 45 mm/Hg
- PaO2 : 97 mmHg
60 Tahun > 80 mmHg
70 Tahun > 70 mmHg
80 Tahun > 60 mmHg
90 Tahun > 50 mmHg
Bayi baru lahir 40 – 80 mmHg

Interpretasi
1.Alkalemia : pH > 7,50
2.Asidemi : pH < 7,30
3.Gagal ventilasi / asidosis respiratorik : PaCO2 > 50 mmHg
4.Hiperventilasi alveolar / alkaloksis respiratorik : PaCO2 < 30 mmHg
5.Hipoksemi pada anak dan dewasa < 80 mmHg
Catatan
Pada formulir pemintaan pemeriksaan atau laporan hasil pemeriksaan dicantumkan ; aktiviti pasaien jika tidak istirahat , FiO2 atau flow O2 , seting ventilator jika menggunakan ventilasi mekanik , suhu tubuh , waktu pengambilan dan waktu analisis dilakukan ( tanggal dan jam ) dan lokasi pengambilan bahan.
2. Sputum
a. Definisi
Sputum adalah sekret mukus yang dihasilkan dari paru-paru, bronkus dan trakea. Individu yang sehat tidak memproduksi sputum.
Pemeriksaan sputum ialah pemeriksaan untuk mengidentifikasi organisme patogenik dan untuk menentukan apakah terdapat sel - sel malignan atau tidak. Juga mungkin digunakan untuk mangkaji terhadap keadaan sensitivitas ( dimana terdapat peningkatan eosinofil )
b. Tujuan
Mengetahui kuman penyebab infeksi saluran napas bawah ( kuman gram positip , gram negatip atau keduanya )
c. Indikasi
- Bronkitis
- Bronkopneumonia
- Pneumonia
- Bronkiektasis
- Abses paru
- Fibrosis kistik
d. Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi absolute maupun relative
e. Persiapan
1. Bahan dan alat
- Wadah steril bermulut lebar dan tutup berulir , tidak mudah pecah / bocor
2. Pasien
- Pada malam hari sebelum pemeriksaan pasien dianjurkan minum air putih yang cukup atau tah manis
- Pasien dianjurkan menggosok gigi dan kumur – kumur sebelu pengumpulan sputum
3. Ruang dan fasiliti
Pengumpulan sputum dapat dilakukan di rumah atau di rumah sakit
4. Prosedur tindakan
- Sebelumnya pasien dijelaskan cara mengeluarkan sputum yang benar
- Siapkan surat pengantar dari dokter yang berisi identitas pasien , diagnosis penyakit dan pemeriksaan yang diinginkan
- Sputum ditampung pada pagi hari ( bangun tidur ) sputum dikumpulkan pada wadah yang sudah disiapkan serahkan ke laboratorium mikrobiologi sesegera mungkin
5. Interpretasi hasil
Tidak ditemukan / ditemukan kuman gram positipatau gram negative atau campuran
3. Cairan Pleura
a. Definisi
Pemariksaan cairan fleura merupakan Tindakan memasukkan jarum atau kateter ke rongga pleura
b. Tujuan
1.Diagnostik
- Membuktikan ada tidaknya cairan atau udara di rongga pleura
- Mengambil bahan pemeriksaan mikroorganisme dan sitologi
2. Terapeutik
- Mengeluarkan cairan atau udara untuk mengatasi keluhan
- Tindakan awal ( punksi percobaan ) sebelu pemasangan WSD
c. Indikasi
- Efusi pleura
- Pneumotoraks
- Hidropneumotoraks
d. Kontra indikasi
Absolut : tidak ada
Relatif :
- Keadaan umum buruk , kecuali punksi pleura dengan tujuan terapeutik
- Infeksi kulit yang luas didaerah punksi
e. Persiapan tindakan
a.Bahan dan alat
- Stetoskop
- Sarung tangan steril
- Semprit dan jarum sekali pakai 5 cc dan 10 cc
- Kateter vena no 14
- Set infuse
- Lidocain 2%
- Botol steril isi dengan cairan aquades + betadin ( 4 : 1 ) 100 cc
- Alkohol 70%
- Betadin
- Kasa steril
- Plester
- Cairan rivalta 2 ml
- Botol kecil untuk uji rivalta
b.Pasien :
Foto toraks PA / lateral terbaru
c.Ruangan
Sebaiknya tindakan dilakukan di ruang tindakan
d. Prosedur tindakan
- Pasien dipersiapkan dengan posisi duduk atau setengah duduk , sisi yang sakit menghadap dokter yang akan melakukan punksi
- Siapkan alat – alat pada tempat yang mudah dijangkau dokter
- Beri tanda ( dengan spidol atau pulpen ) daerah yang akan di punksi berdasarkan
- pemeriksaan jasmani ( daerah yang paling redup atau hipersonor pada perkusi dan vesikuler melemah pada auskultasi ) dan bantuan foto toraks . Jika cairan / udara cukup banyak , punksio dilakukan pada sela iga V atau VI pada garis aksila posterior
- Desinfeksi daerah yang telah diberi tanda dengan betadin dan alcohol , dengan cara memutar kasa yang diberi betadin dari titik pusat tanda , memutar dan melebar kea rah luar
- Anestesi daerah yang telah ditandai , dimulai dari subkutis , lalu tegak lurus kearah pleura ( lakukan tepat di daerah sela iga ) , keluarkan lidocain perlahan hingga terasa jarum menembus pleura. Pastikan tidak ada perdarahan.
- Jika jarum telah menembus pleura , maka cairan / udara akan mudah ditarik , kemudian di tempat yang sama masukan kateter vena no . 14 dan apabila telah menembus pleura , piston jarum di tarik lalu di sambung dengan set infuse
- Bila jumlah cairan yang di butuhkan untuk diagnostic telah cukup , tarik jarum dengan cepat dengan arah tegak lurus pada saatekspirasi dan bekas luka tusukan
- Segera ditutup dengan kasa betadin , tetapi jika tujuan terapeutik maka pada lokasi yang sama dapat segera dilakukan pengeluaran cairan / udara dengan memasang WSD mini atau WSD besar
- Lakukan uji rivalta , bila terbentuk cincin berkabut artinya uji rivalta ( + ).
f. Penyulit
- Perdarahan , terjadi bila jarum / kateter vena melukai arteri atau vena interkostalis
- Nyeri , terjadi jika jarum melukai nervus interkostalis
- Hidropneumotoraks / pneumotoraks , terjadi bila uadar masuk melalui jarum atau kateter pada waktu punksi
- Edema paru , terjadi bila pengosongan rongga pleura di lakukan sangat cepat
- Empisema subkutis , sering terjadi pada pasien dengan elastisiti kulit yang longgar terutama pada orang tua
- Empiema , terjadi bila tindakan dilakukan tanpa mengindahkan prinsip sterility
g. Interpretasi
- Makroskopis cairan : santokrom , serosantrokom , serohemoragis , hemoragis , pus
- Jenis cairan :transudat ; uji rivalta ( - ) , analisis : protein < 3 gr/dl , lekosit < 1000 sel/ml , glukosa = glukosa serum , LDH sama atau sedikit lebih tinggi di banding LDH serum
4. Radiologi
Pemeriksaan radiologi merupakan cara untuk melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi gelombang, baik gelomban elektromagnetik maupun gelombang mekanik. Pada awalnya frekuensi yang dipakai berbentuk sinar-x (x-ray) namun kemajuan teknologi modern memakai pemindaian (scanning) gelombang sangat tinggi (ultrasonic) seperti ultrasonography (USG) dan juga MRI (magnetic resonance imaging)
.

PROSES DAN PENYELENGGARAAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT
1. Kebijakan dan Prosedur
Agar pelayanan teradap pasien bisa terlaksana secara optimal, maka perlu ada prosedur secara tertulis yang di dasarkan dalam bidang radiologi.
a. Kebijaksanaan dan prosedur tata kerja di instalasi radiologi harus tertulis sebagai berikut : (Depkes, standar pelayanan radiologi RSU ,1993)
1. Pemeriksaan radiologi dilakukan hanya permintaan dari dokter . dalam permintan tersebut di cantum kan keadaan klinis.
2. Tanggung jawab hasil pemeriksaan Radio dignostik berada dalam tanggung jawab dokter sepesial Radiologi.
3. Semua foto seharusnya dibaca oleh seorang dokter sepesialis radiologi, jika tidak tersedia dokter sepesialis radiologi maka diagnostik tersebut dapat dilakukan oleh dokter non sepesialis yang telah mendapat pelatihan di bidang radiologi.
4. Pemeriksaan harus dilakukan oleh tenaga bidang radiologi.
b. Buku penuntut prosedur dalam bidang pelayanan radiologi diberikan pada semua instalasi yang ada di rumah sakit.
c. Penuntut prosedur tehnik dan pemeliharaan rutin di berikan kepada tenaga penata rontgen/asisten rontgen ataw yang dianggap berwenang (tenaga yang dilatih).
d. Penuntun prosedur administrasi diketahui oleh semua staf.
e. Kebijaksanaan prosedur akan dikembangkan oleh staf instalasi radiologi bekerjasama dengan profesi lain terkait.
f. Kebijaksanaan dan prosedur ini akan ditinjaw paling tida dalam tiga tahun atau sesuai dengan keadaan.
g. Staf harus menjalan kan kebijaksanaan serta prosedur ini, dan mengikuti semua kegiatan yang ada di bawah kepengawasan kepala instalasi.
2. Prosedur pemeriksaan
Prosedur pemeriksaan radiologi umumnya dapat dikelompokan dalam tigabagian yaitu : (Depkes, standar pelayanan radiologi RSU, 1993)
a. Prosedur sebelum pemeriksaan
b. Prosedur selama pemeriksaan
c. Prosedur setelah pemeriksaan
3. Prosedur sebelum pemeriksaan
Pada umumnya meliputi administrasi dan penjelasan kepada penderita yaitu:
- Pembukuan data-data penderita dan jenis pemeriksaan
- Biaya pemeriksaan
- Pemberitauan mengenai tempat pemeriksaan
- Pemberian no registrasi
- Penjelasan tentang bagaimana pemeriksaan ini berlangsung
4. Prosedur slama pemeriksaan
- Bila dikehendaki suatu pemotretan rontgen yang baik maka diperlukan :
- Penyusunan serta komposisi dari segala sesuatu yang berhubungan dengan pemotretan sehingga dapat terlaksana hal yang kita inginkan. Hal ini dipersiapkan untuk memperlihatkan bentuk dan anatomi dari organ yang difoto secara posisi dan besar obyek yang akan di periksa.
- Kontur yang jelas serta ketajaman yang memadai.
- Mengusahakan pendekatan ukuran yang sama terhadap obyek yang sebenarnya.
Sesuai dengan posisi yang diinginkan maka diusahakan untuk memperoleh arah proyeksi yang tepat dengan jalan mengatur arah tabung.
Adapun usaha agar penderita tetap diam selama berlangsungnya pemeriksaan maka dapat digunakan beberapa lat penunjang yang sangat mengurangi pergerakan objek selama dilakukan pemeriksaan, alat penunjang tersebut antara lain sand bag , spons, compression band dan bantal-bantal kecil yang tidak mempengaruhi gambar radiografi.
5. Prosedur Setelah pemeriksaan
Prosedur ini umumnya meliputi hasil foto rontgen yaitu penganalisaan foto rontgen oleh ahli radiologi untuk menentukan dignosa yang tepat. Pada tahap akhir dari prosedur ini adalah pengarsipan foto-foto.
Penyelenggaraan radiologi senantiasa harus dapat memenuhi tuntutan pelayanan terhadap pasien, demikian pula maupun agar para teknisi dapat bekerja dengan sebaik-baiknya dan maupun mengantisipasi perkembangan IPTEK yang maju dengan pesat, termasuk alat-alat kedokteran yang dalam hal ini adalah alat Radiologi. Untuk itu diperlukan kegiatan pengkajian ulang dengan evaluasi secara terbuka, berksinambung serta obyektif terhadap setiap perubahan dan perkembangan tersebut, sehinga diharapkan model penyelenggaraan radiologi dapat bersama-sama mengikuti derap langkah kemajuan yang sangat cepat dari berbagai disiplin ilmu kedokteran klinis yang membutuhkan peran radiologi sebagai penunjang medis yang dituntut tidak hanya lebih akurat, tapi juga lebih cepat dan tanggap serta sangat antisipatif dan partisipatif dengan mereka.
Ciri-ciri pelayanan kesehatan di rumah sakit model sekarang ini dengan daya saing yang tinggi dan mobilitas konsumen yang cepat, membutuhkan suatu model-model penyelenggaraan pemeriksaan radiologim yang tidak hanya efektif , efisyen pengelolaannya , tapi juga harus mempunyai produk bermutu tinggi, cepat, tanggap dan mampu membaca situasi yang di sesuaikan kondisi dan situasi rumah sakitnya.
6. Falsafah dan tujuan
Pelayanan radiologi dirumah sakit bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan medik rumah sakit melalui pelayanan radiodiagnostik dan radioterapi maupun pelayanan pencitraan lainnya bagi pasien-pasien rujukan, baik yang berasal dari dalam rumah sakit maupun luar rumah sakit. Pelayanan radiologi diumahsakit diselenggarakan bagi pelayanan rutin maupun gawat darurat. (Dep.Kes.,pedoman Akreditasi, rumah sakit 1994)
7. Kriterian
Pemeriksaan radiologi disesuaikan dengan pengembangan dan tujuan rumah sakitsecara keseluryhan dan diutamakan untuk meningkatkan mutu diagnose klinik sehingga pengobatan terhadap pasien lebih efisien dan efektif.
5. Pemeriksaan spirometri
a. Definisi
Pengukuran obyektif faal paru menggunakan spirometer
b. Tujuan
- Mengukur volumestati dan dinamik
- Menilai perubahan atau gangguan faal paru
c. Indikasi
- Avaluasi pada perokok yang berumur > 40 tahun
- Penderita batuk kronik
- Penderita sesak napas tanpa memandang penyebab
- Penderita rasa berat didada ( chest tighness ) saat latihan (exercise) dengan atau tanpa batuk
- Pasien asma, PPOK dan SOPT setelah pemberian bronko dilator, untuk melihat efek pengobatan
- Penderajatan asma akut
- Pasien yang akan menjalani tindakan bedah dengan anestesi umum
- Pasien yang akan dilakukan reseski paru
- Pemeriksaan berkala untuk melihat progresiviti penyakit, yaitu asma tiap 6 bulan sekali dan PPOK tiap 3 bulan sekali
- Pekerja yang terpajan debu atau bahan kimia di tempat kerja
- Mengetahui kecacatan atau ketidak mampuan (misal untuk kepentingan rehabilitasi, asuransi, alasan hukum dan militer)
d. Kontra indikasi
- Absolut
- Tidak ada
- Relatif
Batuk darah, pneumotoraks, status kardivaskuler tidak stabil, infark miokard baru atau emboli paru, aneuresma serebri, pascabedah mata
e. Persiapan tindakan
1. Bahan dan alat
o Alat spirometer yang telah dikalibrasi untuk volume dan arus minimal 1kali dalam seminggu.
o Mouth piece sekali pakai atau penggunaan berulang 1 buah
o Wadah berisi savlon yang telah diencerkan dengan air untuk merendam mouth piece yang digunakan berulang
2. Pasien
o Bebas rokok minimal 2 jam sebelum pemeriksaan
o Tidak boleh makan terlalu kenyang, saat sebelum pemeriksaan
o Tidak boleh berpakaian terlalu ketat
o Penggunaan bronkodilator terakhir minimal 8 jam sebelum pemeriksaan untuk aksi singkat dan 24 jam untuk aksi panjang
3. Ruang dan pasilitas
o Ruang harus mempunyai sistem veentilasi yang baik
o Suhu udara tempat pemeriksaan tidak boleh < 170 C atau > 400 C
o Pemeriksaan terhadap pasien yang dicurigai menderita penyakit infeksi saluran nafas dilakukan pada urutan terakhir dan setelah itu harus dilakukan tindakan antiseptik pada alat
4. Prosedur tindakan
o Dilakukan pengukuran tinggi badan, kemudian tentukan besar nilai dugaan berdasarkan nilai standar faal paru pneumobile project indonesia
o Pemeriksaan sebaiknya dilakukan sambil berdiri
Kapasiti vital paksa (KVP atau FVP)
o Pasien menghirup udara semaksimal mungkin dengan cepat kemudian segera mungkin udara dikeluarkan melalui mouth piece dengan tenaga maksimal hingga udara dapat dikeluarkan sebanyak-banyaknya. Pastikan bibir pasien melingkupi sekeliling mouth piece sehingga tidak ada kebocoran
o Pemeriksaan paling banyak dilakukan 8 kali dan didapatkan paling sedikit 3 nilai yang reprodusibel
o Nilai yang dapt diterima adalah yang memenuhi ke3 kriteria berikut, yaitu :
a. Pemeriksaan dilakukan sampai selesai
b. Waktu ekspirasi minimal 6 detik
c. Awal uji dilakukan harus cukup baik, ekspirasi paksa tidak ragu-ragu dan mencapai puncak yang tajam
o Uji dapat dikatakan reprodesibel jika perbedaan antara 2 nilai terbesar dari ketiga perasat yang dapat diterima adalah ≤ 5% atau ≤ 100 ml

Volume ekspirasi paksa detik pertama ( VEP1 atau FEV1) Adalah jumlah udara yang bisa diekspirasi maksimal secara paksa pada detik pertama, VFP1 dapat diukur dengan perasat yang sama dengan pengukuran KVP dan biasanya kedua pengukuran tersebut dilakukan sekaligus/ bersamaan

Kapasiti vital (KV atau VC)Adalah jumlah udara yng dapat diekspirasi maksimal setlah diinspirasi maksimal.Pasien menghirup udara sebanyak mungkin dan kemudian udara dikeluarkan sebanyak mungkin melalui mouth piece (tanpa perasat paksa)
5. Penyulit
jarang, tetapi dapat terjadi pneumotoraks, peningkatan tekanan intrakranial, sinkope, sakit kepala, pusing, nyeri dada, batuk, infeksi nosokomial, desaturasi oksigen akibat penghentian terapi oksigen dan bronkospasme
6. interpretasi
o Normal :
Jika KVK 80% nilai dugaan untuk semua usia, dan VEP1
 80% nilai dugaan untuk usia < 40 tahun
 75% nilai dugaan untuk usia 40-60 tahun
 70% nilai dugaan untuk usia > 60 tahun
o Restriksi : KVP dibandingkan dugaan atau KVP atau KVP
Ringan : 60% - < 80%
Sedang : 30% - < 60%
Berat : < 30%
o Obstruksi : VEP1 dibandingkan nilai dugaan atau KVP
Ringan : 60% - < 75%
Sedang : 30% - < 60%
Berat : <30%
6. BRONKOSKOPI
a. Definisi
Indakan invasif dengan memasukan alat bronkoskop kedalam percabangan bronkus.
b. Tujuan
- menilai keadaan percabangan bronkus
- mengambil bahan (spesimen) pemeriksaan untuk diagnostik
- melakukan tindakan terapeutik
c. Indikasi
a. Diagnostik
Pada penyakit :
- Kanker paru
- Nodul paru soliter
- Penyakit paru interestial ( ILD )
- TB endobronkial
- Batuk yang menetap atau terdapat keluhan perubahan dahak (sputum)
- Kelainan poto toraks yang belum jelas penyebabnya, bila perlu untuk melakukan biopsi, sikatan dan bilasan bronkus pada tempat yang selektif
- Pneumotoraks (bila paru tidak mengembang)
- Batuk darah, untuk elakukan sumber perdarahan
- Poto toraks normal, sedangkan sputum sitologi positif
Pada keadaan khusus
- Paralisis N.recurens/diafragma
- Suara sarek yang belum jelas penyebabnya
- Mengi lokal
- Cedera inhalasi akut
- Pada keadan tertentu (pengambilan spesimen, menilai letak ujung/tip pipa trakea) pada pasien ventilasi mekanik
b. Terapeutik
- Pengeluaran benda asing
- Evakuasi akumulasi sekret brokus / mucus plug (bronkial toilet)
- Pemasangan pipa trakea
- Aspirasi
- Penanganan batuk darah masif
- Abses paru
- Terapi kanker dengan laser
- Pemasangan stent trakeobrokial
d. Kontraindikasi
Absolut :
Tidak ada, sangat tergantung pada keterampilan operator dan teknik yang digunakan relatif
Gangguan fungsi paru/ jantung yang berat
Keadan umum yang berat/jelek, baik karena demam atau penyebab lain
Hipoksemia sedang (PO2 < 60 mmhg)
Aritmia
Penderita tidak kooperatif
e. Persiapan
1. bahan dan alat
- 1 set perlatan bronkoskopi
- Sumber oksigen dengan aparatusnya
- Sulfas atropin (SA) 0,25 mg (1 ampul)
- Diazepam 5 mg
- Semprit 5 cc ,3 buah
- Kain penutup mata penderita
- Mouth piece
- Betadin yang diencerkan (untuk mencuci bronkoskop)
- Kasa
- Cairan C aCI 0,9%
- Set kedaruratan ,obat-obat kedaruratan (adrenalin,deksametason, SA,bicnat,bronkodilator) dan alat-alat infus/”IV line “(venocath set,infus ,cairan infus,semprit)
- Formulir status bronkoskopi
- Formulir laporan tindakan bronkoskopi
2. Penderita
Codein 10 mg /kali dan ekstrak belladona 2 tablet/kali
Yang di minum 12 jam dan 6 jam sebelum tindakan
- Foto toraks PA dan lateral terbaru ,CT Scan toraks (bila ada)
- EKG terbaru /konsultasi kardiologi (usia>40 tahun/atas indikasi)
- Puasa sekurang-kurangnya 4 jam sebelum tindakan
3. Ruang dan fasiliti
Tindakan bronkoskopi sebaiknya dilakukan di ruang tindakan,namun dapat juga dilakukan di ruang perawatan apa bila keadaan gawat darurat
4. Prosedur tindakan
- Permintaan tindakan dari dokter yang merawat
- Buat status bronkoskopi
- Pasien disiapkan di ruang persiapan dengan memeriksa tanda-tanda vital, status paru dan jantung
- Premedikasi dengan SA 0,25 mg IM dan atau diazepam 5 mg IM ,tergantung umur dan kondisi pasien
- Anestesi lokal dengan kumur tenggorok menggunakan lidocain 2% sebanyak 5 ml selama 5 menit dalam posisi duduk
- Anestesi lokal lanjutan di daerah laringofaring serta pita suara dengan bantuan kaca laring menggunakan xylocaine spray 10% (5-7 semprot) dilanjutkan dengan instilasi lidocain 2% sebanyak 2 ml ke dalam trakea melalui pita suara
- Pasien siap diperiksa dalam posisi telentang dengan kepala ekstensi maksimal (posisi duduk bila tidak bisa telentang) dan operator berdiri di belakang kepala pasien
- Oksimeter di tempelkan pada jari telunjuk pasien, kanul hidung dipasang dan oksigen diberikan sebesar 3-4 1/mnt kedua mata ditutup dengan kain penutup untuk mencegah terkena larutan lidokain/cairan pembilas mouth piece diletakan diantara gigi atas dan bawah tergigitnya bronkoskop (jika bronkoskop dilakukan melalui mulut)
- Bila telah sampai pita suara atau pasien terbatuk melakukan tindakan, dapat diberikan instilasi lidocain 1-2 mI melalui bronkoskop (dosis maksimal lidocain 400mg)
- Insersi bronkoskop, baik melalui mulut (tersering) atau melalui hidung kedalam faring, laring dan pita suara sampai ke daerah bronkus
- Nilai keadaan pita suara, trakea, karina, bronkus kanan, dan kiri beserta cabang-cabangnya sampai bronkus subsegmen
- Membuat laporan hasil bronkoskopi
5. penyulit
- Redaksi obat-obat anestesi
- Trauma
- Spasme laring / bronkus
- Hipoventilasi
- Aritmia
- Hipoksemia
- Infeksi pascabronkoskopi
- Infark miokard
- Bradikardi
6. Interpretasi
- Oripsium (lumen) : terbuka/ menyempit/ kompresi
- Karina : mukosa dalam baas normal/ pucat/ hipermis/ licin/ irreguler/ berbenjol-benjol/ edema/ infiltratif/ parut
- Sekret : tidak ada/ada (mikoid/ purulen/ mukopurulen)
- Massa : tidak ada/ada ( permukaan rata/ tidak rata/ berbenjol-benjol/ mudah berdarah)
- Perdahan/bekuan darah : tidak terlihat/ terlihat, sebutkan lokasi
- Benda asing : tidak tampak/ tampak, sebutkan lokasi

7. BRONCOGRHAFY
A. Pengertian
Bronchography adalah radiografi (x-ray) pemeriksaan interior lorong bawah saluran pernapasan. Struktur saluran pernafasan bawah, yang mencakup laring (kotak suara), trakea (batang tenggorok), dan bronki (saluran udara yang bercabang-cabang yang lebih besar ke paru-paru), menjadi terlihat pada x-ray film setelah pewarna kontras yang menanamkan baik melalui kateter atau bronkoskop (sempit, fleksibel, terang tabung) ke daerah-daerah tersebut. Sebaliknya pewarna adalah suatu zat yang menyebabkan organ tertentu, jaringan, atau struktur agar lebih terlihat pada x-ray atau gambar diagnostik lainnya.

B. Prosedur pelaksanaan
a. Persiapan Sebelum Prosedur
1. Jelaskan prosedur tindakan kepada klien.
2. Pengisian formulir oleh klien tentang persetujuan tindakan
3. Tanyakan riwayat alegi atau sensitive terhadap obat anastesi local dan umum.
4. Puasakan klien sebelum tindakan di lakukan.
5. Tanyakan kepada klien apakah dalam keadaan hamil atau tidak.
6. Kaji apakah ada riwayat perdarahan atau dalam pengunaan obat anti koagulan, aspirin atau obat lain yang mempengaruhi pembekuan darah. Apabila dalam proses pemakian maka segera hentikan sebelum tindakan.
b. Selama Prosedur
1. Sarankan klien untuk membuka pakaiannya, perhiasan, gigipalsu, atau benda – benda lain yang menganggu prosedur tindakan.
2. Pastikan klien menggunakan baju khusus
3. Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum tindakan.
4. Memasukan intravena line kepada tangan klien.
5. Monitor tanda – tanda vital klien.
6. Posisikan klien pada posisi duduk tegak.
7. Berikan obat penenang pada klien.
8. Dokter akan memasukan alat bronkoskop lewat tenggorokan ke dalam trakea dan bronkus.
c. Setelah Prosedur
1. Setelah prosedur tindakan selesai, anda akan dibawa ke ruang pemulihan untuk observasi. Setelah tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan yang stabil anda di perbolehkan untuk pulang
2. Sarankan klien untuk tidak makan dan minum atau puasa sampai GAG reflek kembali normal. Mungkin pada fase ini klien akan merasakan nyeri tenggorokan dan rasa sakit ketika menelan selama beberapa hari dan rasa nyeri ini masih dalam jangka normal
3. Bantu klien dalam sekresi dengan cara posisikan klien dengan kepala lebih rendah dan perawat mebantu dengan cara menepuk – neppuk dada bagian belakang dengan perlahan.
4. Berikan spray atau pelega tenggorokan untuk mengurangi rasa serak tenggorokan yang di derita oleh klien.
5. Jelaskan kepada klien tentang resiko setelah tindakan di lakukan, seperti:
- Demam atau menggigil selama lebih dari dua atau tiga hari setelah prosedur
- Kemerahan, pembengkakan, atau perdarahan.
- Kualitas suara serak atau kesulitan bernapas
8. Fleura pungsi
a. Definisi
Pemeriksaan Fungsi fleura merupakan pemeriksaan sitologi, kultur mikroorganisme (resistensi dan sensitifitas) terhadap BTA,jamur dan parasit
b. Indikasi
- Diagnostik : pemeriksaan sitologi, kultur mikroorganisme (resistensi dan sensitifitas) thd BTA,jamur dan parasit
- Terapeutik : mengurangi sesak nafas
c. Kontraindikasi
1. Gagal jantung (yang belum diatasi)
2. Keadaan yang tidak dapat mentolerir komplikasi pneumotoraks
3. Keadaan umum sangat lemah sehingga tidak dapat duduk/setengah duduk
4. Jumlah cairan terlalu sedikit
5. Gangguan hemostasis yang belum diatasi
6. Pasien dengan positive pressure ventilation karena resiko fistel bronkhopleura dan tension pneumothoraks
d. Persiapan
1. Izin tindakan dan inform consent
2. Foto Thoraks PA
3. Foto thoraks lateral dekubitus (jika masih meragukan)
4. Masa perdarahan dan masa pembekuan
e. Alat dan obat:
- Lidokain 2-4 amp
- Disposabel spuit 2,5 cc 2 buah
- Disposabel spuit 50 cc 1 buah
- Three way 1 buah
- Abocath no. 14 atau 16 1 buah
- Blood set 1 buah
- Bag penampung

BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
Pemeriksaan sistem pernapasan terdiri dari analisa gas darah, sputum, cairan fleura, radiologi, spirometri, broncoscopy, broncoghrapy, fleura fungsi. Dan persiapan yang harus dilakukan oleh perawat ialah meliputi persiapan alat dan bahan, pasien, tempat atau ruangan, dan waktu pelaksanaan. Dan perawat mampu menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan.
b. Saran
Jadilah perawat yang profesional dalam melakukan tindakan dan harus sesuai dengan prosedur dan SOP yang berlaku di institusi dan gunakanlah cara safety and comfort dalam melakukan tindakan apapun terhadap klien dan gunakanlah alat perlindungan diri ( APD ) untuk keamanan dalam bekerja.