Sabtu, 26 Juni 2010

ASKEP SISTEM PERNAPASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan.
1. Sistem pernafasan terdiri daripada hidung , trakea , peparu , tulang rusuk , otot interkosta , bronkus , bronkiol , alveolus dan diafragma .
2. Udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea .
3. Dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan sentiasa terbuka
4. Trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang disambungkan kepada peparu .
5. Kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada hujung bronkiol .
6. Alveolus mempunyai penyesuaian berikut untuk memudahkan pertukaran gas :
( a ) diliputi kapilari darah yang banyak
( b ) dinding sel yang setebal satu sel ( dinding sel yang nipis ) .
( c ) permukaan yang luas dan lembap .
Mekanisma pernafasan
A. Mekanisma ini terbahagi kepada tarikan nafas dan hembusan nafas .
B. Ia melibatkan perubahan kepada :
 Otot interkosta
 Tulang rusuk
 Diafragma
 Isipadu rongga toraks
 Tekanan udara di peparu
C. Semasa tarik nafas ,

Otot interkosta luar mengecut( =Tulang rusuk dinaikkan ke atas ) ; otot diafragma mengecut ( =diafragma menjadikannya leper ), isipadu rongga toraks bertambah dan tekanan udara peparu menjadi rendah , tekanan udara di luar yang lebih tinggi menolak udara kedalam peparu .

D. Semasa hembus nafas ,

Otot interkosta luar mengendur ( =Tulang rusuk dmenurun ke bawah ) ; otot diafragma mengendur ( =diafragma melengkung ke atas ), isipadu rongga toraks berkurang dan tekanan udara peparu menjadi tinggi , tekanan udara dalam peparu yang lebih tinggi menolak udara keluar .

E. Tujuan Pemeriksaan
- Untuk memahami struktur organ pernafasan
- Untuk memahami fungsi organ pernafasan dan dapat menjelaskan fungsi organ pernafasan
Berdasarkan data di atas melatar belakangai mengapa kami mengambil materi system pernapasan sebagai bahan makalah kami dan menimbulkan ketertarikan kami untuk membahas materi system pernapasan.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
- Supaya pembaca dapat mengerti prosedur dan tindakan persiapan pemeriksaan diagnostic yang benar
2. Tujuan Khusus
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan analisa gas darah (AGD)
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan sputum
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan cairan fleura
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan radioilogi
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan spirometri
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan broncoscopy
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan broncoghrapy
- Mahasiswa mampu melakukan persiapan klien untuk tindakan pemeriksaan fleura fungsi
C. Ruang lingkup
Ruang lingkup dari makalah keperawatan medical bedah ini meliputi pengertian, alat dan bahan, persiapan klien, prosedur tindakan, tujuan tindakan.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
1. Research library yaitu pengambilan sumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan atau studi pustaka.
2. Web search yaitu ialah pengambilan sumber dari internet yang ada hubunganya dengan materi pemeriksaan system pernapasan
E. Sistemtematika Penulisan
Adapun sistematika dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN meliputi : Latar belakang masalah, Tujuan penulisan
A. Ruang lingkup
B. Metode penulisan
C. Sistematika penulisan

BAB II PEMBAHASAN meliputi : Laboratorium (Analisa Gas darah, Sputum, Cairan fleura), Radiologi
I. Spirometri
II. Broncoscopy
III. Bronchograpy
IV. Fleura pungsi
BAB III PENUTUP Meliputi :
a. Kesimpulan
b. Saran.
Daftar Pustaka









BAB II
I. Labolatorium
1. Analisa gas darah
a. Definisi
Analisa gas darah adalah suatu pemeriksaan daya serap / interaksi darah dengan gas yang dihirup lewat pernafasan. sampel darah diambil langsung dari arteri.
b. Tujuan
- Mengetahui tekanan parsial gas dalam darah arteri
- Mengetahui status buffer/penyangga tubuh
c. Indikasi
- Curiga terdapat kelainan pH, pO2 dan pCO2
- Serangan akut pada penyakit paru obstruksif, seperti asma, PPOK dan sindrom obstruksi pascatuberkulosis (SOPT)
- penderita gagal napas
- Penderita dengan kelainan obstruksi derajat sedang dan berat
d. Kontraindikasi
Absolut : Tidak ada
Relatif : Kelainan faal hemostasis
e. Persiapan
1.Bahan dan alat :
- Kapas alcohol
- Kasa steril
- Heparin 1000 USP unit/ml sebanyak 0,5 ml
- Semprit 2,5 ml atau 5 ml 1 buah
2. Pasien :
- Sebaiknya pasien dalam keadaan santai, duduk nyaman dengan posisi ½ berbaring selama kurang lebih 10 menit
- Saat pemeriksaan pasien tidak boleh menahan napas, menangis atau hiperventilasi karena cemas oleh karena dapat mempengaruhi hasil
3. Ruang dan fasiliti :
Tidak diperlukan ruang khusus
Prosedur tindakan :
- Hisap heparin 0,5 ml menggunakan semprit yang akan digunakan hingga seluruh dinding sebelah dalam semprit tersebut basah, kemudian keluarakan seluruh heparin tersebut maka akan tersisa heparin dengan volume sekitar 0,14 ml
- Lokasi pengambilan darah arteri yang dianjurkan adalah a. radialis atau a. brakialis jika tidak dapat dilakukan pada daerah tersebut maka pilihan terakhir adalah a. femoralis
- Setelah dilakukan tindakan anti septic menhggunakan kapas alcohol maka jarum ditusukan langsung ke arteri dengan membentuk sudut sekecil mungkin dan maksimal 45 derajat. Tekanan darah arteri sendiri akan menyebabkan pulsasi dan darah akan terhisap dengan sendirinya ke dalam semprit, kecuali pada pasien dalam keadaan syok maka katup semprit harus ditarik untuk menghisap darah.
- Setelah jumlah darah yang dibutuhkan telah cukup maka jarum dicabut
- Jika terdapat gelembung udara maka segera keluarkan gelemmbung tersebut dan ujung jarum dipasang penutup menggunakan gabus atau karet
- Gulirkan dalam kedua telapak tangan semprit berisi darah tersebut agar bercampur dengan heparin
- Tekan daerah penusukan menggunakan kasa kering dan steril selama kurang lebih 3 menit, jika pasien mendapat terapi antikoagulan maka penekanan dapat dilakukan selama 15 – 20 menit jika diperlukan maka dapat dilakukan pemasangan bebat
- Jika bahan pemeriksaan tidak segera dianalisis maka bahan tersebut harus disimpan dalam wadah beerisi air dan es
Penyulit :
- Hematoma,
- emboli udara atau bekuan darah,
- arterispasme,
- perdarahan dan infeksi
- Interpretasi
Normal :
- pH : 7,35 – 7,45
- PaCO2 : 35 – 45 mm/Hg
- PaO2 : 97 mmHg
60 Tahun > 80 mmHg
70 Tahun > 70 mmHg
80 Tahun > 60 mmHg
90 Tahun > 50 mmHg
Bayi baru lahir 40 – 80 mmHg

Interpretasi
1.Alkalemia : pH > 7,50
2.Asidemi : pH < 7,30
3.Gagal ventilasi / asidosis respiratorik : PaCO2 > 50 mmHg
4.Hiperventilasi alveolar / alkaloksis respiratorik : PaCO2 < 30 mmHg
5.Hipoksemi pada anak dan dewasa < 80 mmHg
Catatan
Pada formulir pemintaan pemeriksaan atau laporan hasil pemeriksaan dicantumkan ; aktiviti pasaien jika tidak istirahat , FiO2 atau flow O2 , seting ventilator jika menggunakan ventilasi mekanik , suhu tubuh , waktu pengambilan dan waktu analisis dilakukan ( tanggal dan jam ) dan lokasi pengambilan bahan.
2. Sputum
a. Definisi
Sputum adalah sekret mukus yang dihasilkan dari paru-paru, bronkus dan trakea. Individu yang sehat tidak memproduksi sputum.
Pemeriksaan sputum ialah pemeriksaan untuk mengidentifikasi organisme patogenik dan untuk menentukan apakah terdapat sel - sel malignan atau tidak. Juga mungkin digunakan untuk mangkaji terhadap keadaan sensitivitas ( dimana terdapat peningkatan eosinofil )
b. Tujuan
Mengetahui kuman penyebab infeksi saluran napas bawah ( kuman gram positip , gram negatip atau keduanya )
c. Indikasi
- Bronkitis
- Bronkopneumonia
- Pneumonia
- Bronkiektasis
- Abses paru
- Fibrosis kistik
d. Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi absolute maupun relative
e. Persiapan
1. Bahan dan alat
- Wadah steril bermulut lebar dan tutup berulir , tidak mudah pecah / bocor
2. Pasien
- Pada malam hari sebelum pemeriksaan pasien dianjurkan minum air putih yang cukup atau tah manis
- Pasien dianjurkan menggosok gigi dan kumur – kumur sebelu pengumpulan sputum
3. Ruang dan fasiliti
Pengumpulan sputum dapat dilakukan di rumah atau di rumah sakit
4. Prosedur tindakan
- Sebelumnya pasien dijelaskan cara mengeluarkan sputum yang benar
- Siapkan surat pengantar dari dokter yang berisi identitas pasien , diagnosis penyakit dan pemeriksaan yang diinginkan
- Sputum ditampung pada pagi hari ( bangun tidur ) sputum dikumpulkan pada wadah yang sudah disiapkan serahkan ke laboratorium mikrobiologi sesegera mungkin
5. Interpretasi hasil
Tidak ditemukan / ditemukan kuman gram positipatau gram negative atau campuran
3. Cairan Pleura
a. Definisi
Pemariksaan cairan fleura merupakan Tindakan memasukkan jarum atau kateter ke rongga pleura
b. Tujuan
1.Diagnostik
- Membuktikan ada tidaknya cairan atau udara di rongga pleura
- Mengambil bahan pemeriksaan mikroorganisme dan sitologi
2. Terapeutik
- Mengeluarkan cairan atau udara untuk mengatasi keluhan
- Tindakan awal ( punksi percobaan ) sebelu pemasangan WSD
c. Indikasi
- Efusi pleura
- Pneumotoraks
- Hidropneumotoraks
d. Kontra indikasi
Absolut : tidak ada
Relatif :
- Keadaan umum buruk , kecuali punksi pleura dengan tujuan terapeutik
- Infeksi kulit yang luas didaerah punksi
e. Persiapan tindakan
a.Bahan dan alat
- Stetoskop
- Sarung tangan steril
- Semprit dan jarum sekali pakai 5 cc dan 10 cc
- Kateter vena no 14
- Set infuse
- Lidocain 2%
- Botol steril isi dengan cairan aquades + betadin ( 4 : 1 ) 100 cc
- Alkohol 70%
- Betadin
- Kasa steril
- Plester
- Cairan rivalta 2 ml
- Botol kecil untuk uji rivalta
b.Pasien :
Foto toraks PA / lateral terbaru
c.Ruangan
Sebaiknya tindakan dilakukan di ruang tindakan
d. Prosedur tindakan
- Pasien dipersiapkan dengan posisi duduk atau setengah duduk , sisi yang sakit menghadap dokter yang akan melakukan punksi
- Siapkan alat – alat pada tempat yang mudah dijangkau dokter
- Beri tanda ( dengan spidol atau pulpen ) daerah yang akan di punksi berdasarkan
- pemeriksaan jasmani ( daerah yang paling redup atau hipersonor pada perkusi dan vesikuler melemah pada auskultasi ) dan bantuan foto toraks . Jika cairan / udara cukup banyak , punksio dilakukan pada sela iga V atau VI pada garis aksila posterior
- Desinfeksi daerah yang telah diberi tanda dengan betadin dan alcohol , dengan cara memutar kasa yang diberi betadin dari titik pusat tanda , memutar dan melebar kea rah luar
- Anestesi daerah yang telah ditandai , dimulai dari subkutis , lalu tegak lurus kearah pleura ( lakukan tepat di daerah sela iga ) , keluarkan lidocain perlahan hingga terasa jarum menembus pleura. Pastikan tidak ada perdarahan.
- Jika jarum telah menembus pleura , maka cairan / udara akan mudah ditarik , kemudian di tempat yang sama masukan kateter vena no . 14 dan apabila telah menembus pleura , piston jarum di tarik lalu di sambung dengan set infuse
- Bila jumlah cairan yang di butuhkan untuk diagnostic telah cukup , tarik jarum dengan cepat dengan arah tegak lurus pada saatekspirasi dan bekas luka tusukan
- Segera ditutup dengan kasa betadin , tetapi jika tujuan terapeutik maka pada lokasi yang sama dapat segera dilakukan pengeluaran cairan / udara dengan memasang WSD mini atau WSD besar
- Lakukan uji rivalta , bila terbentuk cincin berkabut artinya uji rivalta ( + ).
f. Penyulit
- Perdarahan , terjadi bila jarum / kateter vena melukai arteri atau vena interkostalis
- Nyeri , terjadi jika jarum melukai nervus interkostalis
- Hidropneumotoraks / pneumotoraks , terjadi bila uadar masuk melalui jarum atau kateter pada waktu punksi
- Edema paru , terjadi bila pengosongan rongga pleura di lakukan sangat cepat
- Empisema subkutis , sering terjadi pada pasien dengan elastisiti kulit yang longgar terutama pada orang tua
- Empiema , terjadi bila tindakan dilakukan tanpa mengindahkan prinsip sterility
g. Interpretasi
- Makroskopis cairan : santokrom , serosantrokom , serohemoragis , hemoragis , pus
- Jenis cairan :transudat ; uji rivalta ( - ) , analisis : protein < 3 gr/dl , lekosit < 1000 sel/ml , glukosa = glukosa serum , LDH sama atau sedikit lebih tinggi di banding LDH serum
4. Radiologi
Pemeriksaan radiologi merupakan cara untuk melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi gelombang, baik gelomban elektromagnetik maupun gelombang mekanik. Pada awalnya frekuensi yang dipakai berbentuk sinar-x (x-ray) namun kemajuan teknologi modern memakai pemindaian (scanning) gelombang sangat tinggi (ultrasonic) seperti ultrasonography (USG) dan juga MRI (magnetic resonance imaging)
.

PROSES DAN PENYELENGGARAAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT
1. Kebijakan dan Prosedur
Agar pelayanan teradap pasien bisa terlaksana secara optimal, maka perlu ada prosedur secara tertulis yang di dasarkan dalam bidang radiologi.
a. Kebijaksanaan dan prosedur tata kerja di instalasi radiologi harus tertulis sebagai berikut : (Depkes, standar pelayanan radiologi RSU ,1993)
1. Pemeriksaan radiologi dilakukan hanya permintaan dari dokter . dalam permintan tersebut di cantum kan keadaan klinis.
2. Tanggung jawab hasil pemeriksaan Radio dignostik berada dalam tanggung jawab dokter sepesial Radiologi.
3. Semua foto seharusnya dibaca oleh seorang dokter sepesialis radiologi, jika tidak tersedia dokter sepesialis radiologi maka diagnostik tersebut dapat dilakukan oleh dokter non sepesialis yang telah mendapat pelatihan di bidang radiologi.
4. Pemeriksaan harus dilakukan oleh tenaga bidang radiologi.
b. Buku penuntut prosedur dalam bidang pelayanan radiologi diberikan pada semua instalasi yang ada di rumah sakit.
c. Penuntut prosedur tehnik dan pemeliharaan rutin di berikan kepada tenaga penata rontgen/asisten rontgen ataw yang dianggap berwenang (tenaga yang dilatih).
d. Penuntun prosedur administrasi diketahui oleh semua staf.
e. Kebijaksanaan prosedur akan dikembangkan oleh staf instalasi radiologi bekerjasama dengan profesi lain terkait.
f. Kebijaksanaan dan prosedur ini akan ditinjaw paling tida dalam tiga tahun atau sesuai dengan keadaan.
g. Staf harus menjalan kan kebijaksanaan serta prosedur ini, dan mengikuti semua kegiatan yang ada di bawah kepengawasan kepala instalasi.
2. Prosedur pemeriksaan
Prosedur pemeriksaan radiologi umumnya dapat dikelompokan dalam tigabagian yaitu : (Depkes, standar pelayanan radiologi RSU, 1993)
a. Prosedur sebelum pemeriksaan
b. Prosedur selama pemeriksaan
c. Prosedur setelah pemeriksaan
3. Prosedur sebelum pemeriksaan
Pada umumnya meliputi administrasi dan penjelasan kepada penderita yaitu:
- Pembukuan data-data penderita dan jenis pemeriksaan
- Biaya pemeriksaan
- Pemberitauan mengenai tempat pemeriksaan
- Pemberian no registrasi
- Penjelasan tentang bagaimana pemeriksaan ini berlangsung
4. Prosedur slama pemeriksaan
- Bila dikehendaki suatu pemotretan rontgen yang baik maka diperlukan :
- Penyusunan serta komposisi dari segala sesuatu yang berhubungan dengan pemotretan sehingga dapat terlaksana hal yang kita inginkan. Hal ini dipersiapkan untuk memperlihatkan bentuk dan anatomi dari organ yang difoto secara posisi dan besar obyek yang akan di periksa.
- Kontur yang jelas serta ketajaman yang memadai.
- Mengusahakan pendekatan ukuran yang sama terhadap obyek yang sebenarnya.
Sesuai dengan posisi yang diinginkan maka diusahakan untuk memperoleh arah proyeksi yang tepat dengan jalan mengatur arah tabung.
Adapun usaha agar penderita tetap diam selama berlangsungnya pemeriksaan maka dapat digunakan beberapa lat penunjang yang sangat mengurangi pergerakan objek selama dilakukan pemeriksaan, alat penunjang tersebut antara lain sand bag , spons, compression band dan bantal-bantal kecil yang tidak mempengaruhi gambar radiografi.
5. Prosedur Setelah pemeriksaan
Prosedur ini umumnya meliputi hasil foto rontgen yaitu penganalisaan foto rontgen oleh ahli radiologi untuk menentukan dignosa yang tepat. Pada tahap akhir dari prosedur ini adalah pengarsipan foto-foto.
Penyelenggaraan radiologi senantiasa harus dapat memenuhi tuntutan pelayanan terhadap pasien, demikian pula maupun agar para teknisi dapat bekerja dengan sebaik-baiknya dan maupun mengantisipasi perkembangan IPTEK yang maju dengan pesat, termasuk alat-alat kedokteran yang dalam hal ini adalah alat Radiologi. Untuk itu diperlukan kegiatan pengkajian ulang dengan evaluasi secara terbuka, berksinambung serta obyektif terhadap setiap perubahan dan perkembangan tersebut, sehinga diharapkan model penyelenggaraan radiologi dapat bersama-sama mengikuti derap langkah kemajuan yang sangat cepat dari berbagai disiplin ilmu kedokteran klinis yang membutuhkan peran radiologi sebagai penunjang medis yang dituntut tidak hanya lebih akurat, tapi juga lebih cepat dan tanggap serta sangat antisipatif dan partisipatif dengan mereka.
Ciri-ciri pelayanan kesehatan di rumah sakit model sekarang ini dengan daya saing yang tinggi dan mobilitas konsumen yang cepat, membutuhkan suatu model-model penyelenggaraan pemeriksaan radiologim yang tidak hanya efektif , efisyen pengelolaannya , tapi juga harus mempunyai produk bermutu tinggi, cepat, tanggap dan mampu membaca situasi yang di sesuaikan kondisi dan situasi rumah sakitnya.
6. Falsafah dan tujuan
Pelayanan radiologi dirumah sakit bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan medik rumah sakit melalui pelayanan radiodiagnostik dan radioterapi maupun pelayanan pencitraan lainnya bagi pasien-pasien rujukan, baik yang berasal dari dalam rumah sakit maupun luar rumah sakit. Pelayanan radiologi diumahsakit diselenggarakan bagi pelayanan rutin maupun gawat darurat. (Dep.Kes.,pedoman Akreditasi, rumah sakit 1994)
7. Kriterian
Pemeriksaan radiologi disesuaikan dengan pengembangan dan tujuan rumah sakitsecara keseluryhan dan diutamakan untuk meningkatkan mutu diagnose klinik sehingga pengobatan terhadap pasien lebih efisien dan efektif.
5. Pemeriksaan spirometri
a. Definisi
Pengukuran obyektif faal paru menggunakan spirometer
b. Tujuan
- Mengukur volumestati dan dinamik
- Menilai perubahan atau gangguan faal paru
c. Indikasi
- Avaluasi pada perokok yang berumur > 40 tahun
- Penderita batuk kronik
- Penderita sesak napas tanpa memandang penyebab
- Penderita rasa berat didada ( chest tighness ) saat latihan (exercise) dengan atau tanpa batuk
- Pasien asma, PPOK dan SOPT setelah pemberian bronko dilator, untuk melihat efek pengobatan
- Penderajatan asma akut
- Pasien yang akan menjalani tindakan bedah dengan anestesi umum
- Pasien yang akan dilakukan reseski paru
- Pemeriksaan berkala untuk melihat progresiviti penyakit, yaitu asma tiap 6 bulan sekali dan PPOK tiap 3 bulan sekali
- Pekerja yang terpajan debu atau bahan kimia di tempat kerja
- Mengetahui kecacatan atau ketidak mampuan (misal untuk kepentingan rehabilitasi, asuransi, alasan hukum dan militer)
d. Kontra indikasi
- Absolut
- Tidak ada
- Relatif
Batuk darah, pneumotoraks, status kardivaskuler tidak stabil, infark miokard baru atau emboli paru, aneuresma serebri, pascabedah mata
e. Persiapan tindakan
1. Bahan dan alat
o Alat spirometer yang telah dikalibrasi untuk volume dan arus minimal 1kali dalam seminggu.
o Mouth piece sekali pakai atau penggunaan berulang 1 buah
o Wadah berisi savlon yang telah diencerkan dengan air untuk merendam mouth piece yang digunakan berulang
2. Pasien
o Bebas rokok minimal 2 jam sebelum pemeriksaan
o Tidak boleh makan terlalu kenyang, saat sebelum pemeriksaan
o Tidak boleh berpakaian terlalu ketat
o Penggunaan bronkodilator terakhir minimal 8 jam sebelum pemeriksaan untuk aksi singkat dan 24 jam untuk aksi panjang
3. Ruang dan pasilitas
o Ruang harus mempunyai sistem veentilasi yang baik
o Suhu udara tempat pemeriksaan tidak boleh < 170 C atau > 400 C
o Pemeriksaan terhadap pasien yang dicurigai menderita penyakit infeksi saluran nafas dilakukan pada urutan terakhir dan setelah itu harus dilakukan tindakan antiseptik pada alat
4. Prosedur tindakan
o Dilakukan pengukuran tinggi badan, kemudian tentukan besar nilai dugaan berdasarkan nilai standar faal paru pneumobile project indonesia
o Pemeriksaan sebaiknya dilakukan sambil berdiri
Kapasiti vital paksa (KVP atau FVP)
o Pasien menghirup udara semaksimal mungkin dengan cepat kemudian segera mungkin udara dikeluarkan melalui mouth piece dengan tenaga maksimal hingga udara dapat dikeluarkan sebanyak-banyaknya. Pastikan bibir pasien melingkupi sekeliling mouth piece sehingga tidak ada kebocoran
o Pemeriksaan paling banyak dilakukan 8 kali dan didapatkan paling sedikit 3 nilai yang reprodusibel
o Nilai yang dapt diterima adalah yang memenuhi ke3 kriteria berikut, yaitu :
a. Pemeriksaan dilakukan sampai selesai
b. Waktu ekspirasi minimal 6 detik
c. Awal uji dilakukan harus cukup baik, ekspirasi paksa tidak ragu-ragu dan mencapai puncak yang tajam
o Uji dapat dikatakan reprodesibel jika perbedaan antara 2 nilai terbesar dari ketiga perasat yang dapat diterima adalah ≤ 5% atau ≤ 100 ml

Volume ekspirasi paksa detik pertama ( VEP1 atau FEV1) Adalah jumlah udara yang bisa diekspirasi maksimal secara paksa pada detik pertama, VFP1 dapat diukur dengan perasat yang sama dengan pengukuran KVP dan biasanya kedua pengukuran tersebut dilakukan sekaligus/ bersamaan

Kapasiti vital (KV atau VC)Adalah jumlah udara yng dapat diekspirasi maksimal setlah diinspirasi maksimal.Pasien menghirup udara sebanyak mungkin dan kemudian udara dikeluarkan sebanyak mungkin melalui mouth piece (tanpa perasat paksa)
5. Penyulit
jarang, tetapi dapat terjadi pneumotoraks, peningkatan tekanan intrakranial, sinkope, sakit kepala, pusing, nyeri dada, batuk, infeksi nosokomial, desaturasi oksigen akibat penghentian terapi oksigen dan bronkospasme
6. interpretasi
o Normal :
Jika KVK 80% nilai dugaan untuk semua usia, dan VEP1
 80% nilai dugaan untuk usia < 40 tahun
 75% nilai dugaan untuk usia 40-60 tahun
 70% nilai dugaan untuk usia > 60 tahun
o Restriksi : KVP dibandingkan dugaan atau KVP atau KVP
Ringan : 60% - < 80%
Sedang : 30% - < 60%
Berat : < 30%
o Obstruksi : VEP1 dibandingkan nilai dugaan atau KVP
Ringan : 60% - < 75%
Sedang : 30% - < 60%
Berat : <30%
6. BRONKOSKOPI
a. Definisi
Indakan invasif dengan memasukan alat bronkoskop kedalam percabangan bronkus.
b. Tujuan
- menilai keadaan percabangan bronkus
- mengambil bahan (spesimen) pemeriksaan untuk diagnostik
- melakukan tindakan terapeutik
c. Indikasi
a. Diagnostik
Pada penyakit :
- Kanker paru
- Nodul paru soliter
- Penyakit paru interestial ( ILD )
- TB endobronkial
- Batuk yang menetap atau terdapat keluhan perubahan dahak (sputum)
- Kelainan poto toraks yang belum jelas penyebabnya, bila perlu untuk melakukan biopsi, sikatan dan bilasan bronkus pada tempat yang selektif
- Pneumotoraks (bila paru tidak mengembang)
- Batuk darah, untuk elakukan sumber perdarahan
- Poto toraks normal, sedangkan sputum sitologi positif
Pada keadaan khusus
- Paralisis N.recurens/diafragma
- Suara sarek yang belum jelas penyebabnya
- Mengi lokal
- Cedera inhalasi akut
- Pada keadan tertentu (pengambilan spesimen, menilai letak ujung/tip pipa trakea) pada pasien ventilasi mekanik
b. Terapeutik
- Pengeluaran benda asing
- Evakuasi akumulasi sekret brokus / mucus plug (bronkial toilet)
- Pemasangan pipa trakea
- Aspirasi
- Penanganan batuk darah masif
- Abses paru
- Terapi kanker dengan laser
- Pemasangan stent trakeobrokial
d. Kontraindikasi
Absolut :
Tidak ada, sangat tergantung pada keterampilan operator dan teknik yang digunakan relatif
Gangguan fungsi paru/ jantung yang berat
Keadan umum yang berat/jelek, baik karena demam atau penyebab lain
Hipoksemia sedang (PO2 < 60 mmhg)
Aritmia
Penderita tidak kooperatif
e. Persiapan
1. bahan dan alat
- 1 set perlatan bronkoskopi
- Sumber oksigen dengan aparatusnya
- Sulfas atropin (SA) 0,25 mg (1 ampul)
- Diazepam 5 mg
- Semprit 5 cc ,3 buah
- Kain penutup mata penderita
- Mouth piece
- Betadin yang diencerkan (untuk mencuci bronkoskop)
- Kasa
- Cairan C aCI 0,9%
- Set kedaruratan ,obat-obat kedaruratan (adrenalin,deksametason, SA,bicnat,bronkodilator) dan alat-alat infus/”IV line “(venocath set,infus ,cairan infus,semprit)
- Formulir status bronkoskopi
- Formulir laporan tindakan bronkoskopi
2. Penderita
Codein 10 mg /kali dan ekstrak belladona 2 tablet/kali
Yang di minum 12 jam dan 6 jam sebelum tindakan
- Foto toraks PA dan lateral terbaru ,CT Scan toraks (bila ada)
- EKG terbaru /konsultasi kardiologi (usia>40 tahun/atas indikasi)
- Puasa sekurang-kurangnya 4 jam sebelum tindakan
3. Ruang dan fasiliti
Tindakan bronkoskopi sebaiknya dilakukan di ruang tindakan,namun dapat juga dilakukan di ruang perawatan apa bila keadaan gawat darurat
4. Prosedur tindakan
- Permintaan tindakan dari dokter yang merawat
- Buat status bronkoskopi
- Pasien disiapkan di ruang persiapan dengan memeriksa tanda-tanda vital, status paru dan jantung
- Premedikasi dengan SA 0,25 mg IM dan atau diazepam 5 mg IM ,tergantung umur dan kondisi pasien
- Anestesi lokal dengan kumur tenggorok menggunakan lidocain 2% sebanyak 5 ml selama 5 menit dalam posisi duduk
- Anestesi lokal lanjutan di daerah laringofaring serta pita suara dengan bantuan kaca laring menggunakan xylocaine spray 10% (5-7 semprot) dilanjutkan dengan instilasi lidocain 2% sebanyak 2 ml ke dalam trakea melalui pita suara
- Pasien siap diperiksa dalam posisi telentang dengan kepala ekstensi maksimal (posisi duduk bila tidak bisa telentang) dan operator berdiri di belakang kepala pasien
- Oksimeter di tempelkan pada jari telunjuk pasien, kanul hidung dipasang dan oksigen diberikan sebesar 3-4 1/mnt kedua mata ditutup dengan kain penutup untuk mencegah terkena larutan lidokain/cairan pembilas mouth piece diletakan diantara gigi atas dan bawah tergigitnya bronkoskop (jika bronkoskop dilakukan melalui mulut)
- Bila telah sampai pita suara atau pasien terbatuk melakukan tindakan, dapat diberikan instilasi lidocain 1-2 mI melalui bronkoskop (dosis maksimal lidocain 400mg)
- Insersi bronkoskop, baik melalui mulut (tersering) atau melalui hidung kedalam faring, laring dan pita suara sampai ke daerah bronkus
- Nilai keadaan pita suara, trakea, karina, bronkus kanan, dan kiri beserta cabang-cabangnya sampai bronkus subsegmen
- Membuat laporan hasil bronkoskopi
5. penyulit
- Redaksi obat-obat anestesi
- Trauma
- Spasme laring / bronkus
- Hipoventilasi
- Aritmia
- Hipoksemia
- Infeksi pascabronkoskopi
- Infark miokard
- Bradikardi
6. Interpretasi
- Oripsium (lumen) : terbuka/ menyempit/ kompresi
- Karina : mukosa dalam baas normal/ pucat/ hipermis/ licin/ irreguler/ berbenjol-benjol/ edema/ infiltratif/ parut
- Sekret : tidak ada/ada (mikoid/ purulen/ mukopurulen)
- Massa : tidak ada/ada ( permukaan rata/ tidak rata/ berbenjol-benjol/ mudah berdarah)
- Perdahan/bekuan darah : tidak terlihat/ terlihat, sebutkan lokasi
- Benda asing : tidak tampak/ tampak, sebutkan lokasi

7. BRONCOGRHAFY
A. Pengertian
Bronchography adalah radiografi (x-ray) pemeriksaan interior lorong bawah saluran pernapasan. Struktur saluran pernafasan bawah, yang mencakup laring (kotak suara), trakea (batang tenggorok), dan bronki (saluran udara yang bercabang-cabang yang lebih besar ke paru-paru), menjadi terlihat pada x-ray film setelah pewarna kontras yang menanamkan baik melalui kateter atau bronkoskop (sempit, fleksibel, terang tabung) ke daerah-daerah tersebut. Sebaliknya pewarna adalah suatu zat yang menyebabkan organ tertentu, jaringan, atau struktur agar lebih terlihat pada x-ray atau gambar diagnostik lainnya.

B. Prosedur pelaksanaan
a. Persiapan Sebelum Prosedur
1. Jelaskan prosedur tindakan kepada klien.
2. Pengisian formulir oleh klien tentang persetujuan tindakan
3. Tanyakan riwayat alegi atau sensitive terhadap obat anastesi local dan umum.
4. Puasakan klien sebelum tindakan di lakukan.
5. Tanyakan kepada klien apakah dalam keadaan hamil atau tidak.
6. Kaji apakah ada riwayat perdarahan atau dalam pengunaan obat anti koagulan, aspirin atau obat lain yang mempengaruhi pembekuan darah. Apabila dalam proses pemakian maka segera hentikan sebelum tindakan.
b. Selama Prosedur
1. Sarankan klien untuk membuka pakaiannya, perhiasan, gigipalsu, atau benda – benda lain yang menganggu prosedur tindakan.
2. Pastikan klien menggunakan baju khusus
3. Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum tindakan.
4. Memasukan intravena line kepada tangan klien.
5. Monitor tanda – tanda vital klien.
6. Posisikan klien pada posisi duduk tegak.
7. Berikan obat penenang pada klien.
8. Dokter akan memasukan alat bronkoskop lewat tenggorokan ke dalam trakea dan bronkus.
c. Setelah Prosedur
1. Setelah prosedur tindakan selesai, anda akan dibawa ke ruang pemulihan untuk observasi. Setelah tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan yang stabil anda di perbolehkan untuk pulang
2. Sarankan klien untuk tidak makan dan minum atau puasa sampai GAG reflek kembali normal. Mungkin pada fase ini klien akan merasakan nyeri tenggorokan dan rasa sakit ketika menelan selama beberapa hari dan rasa nyeri ini masih dalam jangka normal
3. Bantu klien dalam sekresi dengan cara posisikan klien dengan kepala lebih rendah dan perawat mebantu dengan cara menepuk – neppuk dada bagian belakang dengan perlahan.
4. Berikan spray atau pelega tenggorokan untuk mengurangi rasa serak tenggorokan yang di derita oleh klien.
5. Jelaskan kepada klien tentang resiko setelah tindakan di lakukan, seperti:
- Demam atau menggigil selama lebih dari dua atau tiga hari setelah prosedur
- Kemerahan, pembengkakan, atau perdarahan.
- Kualitas suara serak atau kesulitan bernapas
8. Fleura pungsi
a. Definisi
Pemeriksaan Fungsi fleura merupakan pemeriksaan sitologi, kultur mikroorganisme (resistensi dan sensitifitas) terhadap BTA,jamur dan parasit
b. Indikasi
- Diagnostik : pemeriksaan sitologi, kultur mikroorganisme (resistensi dan sensitifitas) thd BTA,jamur dan parasit
- Terapeutik : mengurangi sesak nafas
c. Kontraindikasi
1. Gagal jantung (yang belum diatasi)
2. Keadaan yang tidak dapat mentolerir komplikasi pneumotoraks
3. Keadaan umum sangat lemah sehingga tidak dapat duduk/setengah duduk
4. Jumlah cairan terlalu sedikit
5. Gangguan hemostasis yang belum diatasi
6. Pasien dengan positive pressure ventilation karena resiko fistel bronkhopleura dan tension pneumothoraks
d. Persiapan
1. Izin tindakan dan inform consent
2. Foto Thoraks PA
3. Foto thoraks lateral dekubitus (jika masih meragukan)
4. Masa perdarahan dan masa pembekuan
e. Alat dan obat:
- Lidokain 2-4 amp
- Disposabel spuit 2,5 cc 2 buah
- Disposabel spuit 50 cc 1 buah
- Three way 1 buah
- Abocath no. 14 atau 16 1 buah
- Blood set 1 buah
- Bag penampung

BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
Pemeriksaan sistem pernapasan terdiri dari analisa gas darah, sputum, cairan fleura, radiologi, spirometri, broncoscopy, broncoghrapy, fleura fungsi. Dan persiapan yang harus dilakukan oleh perawat ialah meliputi persiapan alat dan bahan, pasien, tempat atau ruangan, dan waktu pelaksanaan. Dan perawat mampu menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan.
b. Saran
Jadilah perawat yang profesional dalam melakukan tindakan dan harus sesuai dengan prosedur dan SOP yang berlaku di institusi dan gunakanlah cara safety and comfort dalam melakukan tindakan apapun terhadap klien dan gunakanlah alat perlindungan diri ( APD ) untuk keamanan dalam bekerja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar